Tauladan Mama: Memberi Yang Terbaik
Pasal berkurban, selain totalitas dalam taat & persembahan terbaik keluarga Ibrahim. Kayanya, yang harus banget aku teladani ya Almh Mama.
Ketika bersedekah, beliau selalu memberikan kepunyaan terbaiknya. Dalam beberapa kesempatan kudapati kakak sepupu yang baru menikah berkunjung kerumah, Mama akan memberikan beberapa perabotan dapur yang dipunya.
Yang paling teringat, beliau memberikan salah satu wajan yang masih bagus yang baru dipakai beberapa kali. "Kenapa ngasi yang bagus sih? Padahal baru beli kemarin. Kan bisa ngasi yang lama aja, toh juga masih bisa dipakai. Biar yang bagus kita yang pakai aja" pikirku waktu itu, tapi tak sempat kuutarakan.
Itu diantara dua wajan dengan ukuran dan jenis yang sama. Mama memberikan yang masih bagus, masih mengkilat, dan baru beberapa kali dipakai. Kejadiannya ngga cuma sekali, beberapa kali malah. Tapi sampai akhir, Aku tidak berkesempatan untuk bertanya langsung pada beliau.
Setelahnya beliau akan beli wajan baru lagi. Nanti kalau ada sepupu yang baru menikah berkunjung lagi, si wajan baru juga akan berakhir sama.
Kalau bukan karena pengalaman berkesan itu, mungkin aku ngga akan pernah menyaksikan langsung tentang persembahan terbaik. Mungkin aku hanya akan tau kisah Nabi Ibrahim merelakan yang paling dicinta, juga kisah Habil dengan persembahan terbaiknya.
Beruntungnya, aku punya tauladan langsung. Meski butuh bertahun-tahun sampai aku paham maknanya. Sampai aku terpikir "Oh, ini maksud Mama dulu".
Benarlah bahwa usia bukan hanya perkara angka, tapi juga kebermanfaatan. Mungkin dari pengalaman masa kecilku waktu itu, aku sedikit paham tentang memberi yang terbaik untuk Allah. Bukan untuk pujian atau balasan manusia, tapi semata-mata agar Allah cinta.
Mamah, terima kasih untuk tauladan baiknya🤍
Diposting ulang 25 November 2024
Komentar
Posting Komentar