Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Setelah 6 tahun lebih berstatus sebagai seeorang yang belajar psikologi, tahun ini aku akhirnya memberanikan diri untuk menemui psikolog. Awalnya merasa gengs, karena aku berpikir bahwa selama ini aku cukup bisa menghandle banyak hal, sampai aku dihadapkan dengan sebuah kondisi kelelahan berkepanjangan, merasa hidup gitu-gitu aja, dan aku sendiri nggak nyaman dengan itu semua.  

Dengan mengalahkan berbagai macam kecemasan dan rasa ingin mundur, aku akhirnya sampai di meja konseling. Ngobrol banyak dengan psikolog, menguraikan apa saja yang aku pikir dan rasakan. Hingga sampai pada salah satu pertanyaan yang awalnya aku bingung jawabnya apa. 

"Menurut Nunung, bernafas itu baik atau bagus?" Tanya psikolog. "Baik, mba" jawabku ragu. "Nah, iya. Tapi kita sering ngga sadar kalau itu baik saking biasanya kita lakukan. Coba kalau kita ga bernafas, apa yang terjadi?". "Kita bisa meninggal mba kalau ngga bernafas" jawabku. 

Dari situ aku dapat poinya. Bahwa, ada banyak sekali hal baik yang kita rasakan, yang kita kerjakan, tapi luput dari perhatian kita saking biasanya kita lakukan. Rutinitas yang kita pikir gitu-gitu aja ternyata bisa bermanfaat untuk diri kita maupun orang lain. Tapi kita jarang sekali menyadarinya.

Rutinitas IRT ngurus anak, nyuci, masak, beres² rumah rasanya melelahkan. Tapi itu baik ga? Tentu saja sesuatu hal yang baik, yang kalau tidak dikerjakan bisa mengganggu keseimbangan di dalam rumah. Rumah berantakan, cucian numpuk, anak tidak terurus malah akan menambah masalah baru.

Rutinitas guru yang mengajar dari pagi sampe sore. Kadang materinya itu-itu aja diulang tiap kelas, tiap tahun, hingga ratusan kali. Tapi apakah itu baik? Tentu, itu akan sangat amat bermanfaat untuk bekal para siswa mengarungi kehidupan kedepannya.

Rutinitas pekerja yang tiap hari ketemu customer, buat laporan, input data, dan mengerjakan setumpuk jobdesk juga pasti rasanya melelahkan. Tapi apakah itu baik? Tentu, dengan kita mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita, akan menjaga keseimbangan jalannya roda perusahaan. 

Rutinitas penuntut ilmu yang hari-hari diisi sekolah nugas sekolah nugas, apakah itu baik? Dengan kita memaksakan diri belajar, setidaknya kita telah berusaha untuk keluar dari lingkaran kebodohan. 

Rutinitas kita yang berusaha bertahan hidup, hari-hari berusaha produktif, mencoba berbagai peruntungan, melakukan hal-hal kecil yang sekiranya bermanfaat. Kadang rasanya dunia tidak adil, merasa percuma berusaha. Tapi apakah yang kita lakukan itu baik? Tentu, bahkan bangun dari tempat tidur, memulai hari dengan satu harapan saja sudah sangat baik.

Rutinitas seorang muslim, melakukan kewajiban sholat 5 waktu rasanya sudah biasa, tapi apakah itu baik? Tentu, kita sudah berusaha menjadi insan yang bersyukur, yang berusaha menunaikan tujuan kita diciptakan. 

Begitulah manusia. Kadang hal-hal biasa yang kita kerjakan, rasanya tidak berarti apa-apa. Padahal ada sesuatu yang baik jika kita berusaha menyadarinya. 

Begitulah manusia. Kadang rutinitas membosankan membuat kita luput dari kesyukuran.

Begitulah manusia. Kadang kita terlalu fokus pada hal-hal yang belum kita punya, sampai kita lupa pada banyak hal lain yang ternyata baik dan bermanfaat.

Yuk kita mulai sadari apapun yang kita lakukan, sekecil apapun yang kita usahakan. Tetap usaha untuk disyukuri. Jangan diremehkan, jangan di judge. Karena setiap usaha kita, berhak untuk di apresiasi.  

Kata Allah "Fa may ya'mal misqāla żarratin khairay yarah" yang artinya "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya" (Al-Zalzalah:7). 

Nah, lho. Allah saja mengapresiasi sekecil apapun kebaikan. So, jangan jahat sama diri sendiri, ya. Apalagi ngejudge kalau apa yang kamu lakukan itu percuma. 

Don't to hars and please be nice to your self🤗

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1