How I Meet Jogja #1



Assalamualaikum Chinguyaaa~
Wel kam bek tu may blog heheh.
Udah kaya youtuber aja yak.

Malam ini aku mau sedikit cerita tentang aku dan Jogja, berhubung hari ini anniversary satu tahun pertemuan kami :D

Sebenernya dulu pernah kepikiran buat tingal di Jogja pas jaman kelas satu SMA. Waktu itu, salah seorang temannya kakak lulus SNMPTN di UGM. Gila, keren banget kan ya. Nah, sejak saat itu jiwa ambisiusku terpanggil buat lulus SNMPTN di salah satu PTN terbaik se-Indonesia itu. Salah satu cara yang aku yakinin bisa bikin tembus UGM ya belajar, pertahanin nilai, seperti tips yang diberikan kakak-kakak kelas yang lulus SNMPTN (banyak yang bilang untung-untungan juga sih).

Seiring berjalannya waktu, aku malah pesimis. Merasa nilai gak bakal cukuplah, di Jogja nanti gak ada temenlah, gak ada keluarga lah, terlebih bapak juga sebenernya gak ngizinin buat kuliah di luar daerah, dan beberapa alasan lainnya. Akhirnya kuliah di Jogja ku kubur dalam-dalam, kemudian membelokkan pilihan ke salah satu kota di Jawa Timur. Malang. Kota itu menjadi target selanjutnya, dengan harapan bapak bakal ngizinin karena ada kakak disana.

SNMPTN dan SBMPTN gak lulus di Malang. Tetapi karena beberapa masalah waktu itu, aku asal aja daftar UTUL UGM, urusan pergi nggaknya urusan belakang. Dan alhamdulillahnya bapak ngizinin buat pergi. Jadilah otw Jogja sok ikut UTUL hanya berbekal sisa hasil belajar SBM. Sebenernya sih salah satu alasan biar nggak di rumah aja, menghindari diri dari kecewa dan sakit hati. Lari dari kenyataan, lari dari masalah. Istilah kerennya sih kabur dengan cara elegan *eaaa. Alasan yang cukup childish untuk remaja labil yang belum bisa menerima kenyataan wkwkwk.

H-1 keberangkatan, seperti sebuah tradisi dalam keluarga jika akan bepergian jauh harus minta doa dan restu pada sanak famili agar dimudahkan langkah dan urusan. Entah datang dari mana datangnya perasaan sesak, tenggorokanku tercekat, air mata seolah-olah memaksa untuk keluar. Namun berusaha kutahan, tidak ingin kalau terlihat lemah terutama di hadapan bapak.

Malam itu bapak tidur di ruang tengah depan tv, takut-takut kalau besok telat bangun mengingat pesawat ke Jogja boarding jam 6 pagi. Setidaknya bangun jam 2 lebih buat persiapan dan perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menitan. Bapak gak ikut, beliau hanya mengantar sampai bandara. Hanya aku sendiri, dan nanti di Jogja akan tinggal sementara bersama salah seorang temannya kakak, kak Andri namanya. Kami janjian di Masjid Bandara untuk bertemu, subuhan dulu sih rencananya.

Benar saja, kami bertemu di masjid Bandara. Bapak, adek dan paman yang ikut mengantar, sholat berjama’ah dahulu yang mana pintu masuk ke dalam masjid berbeda. Selesai sholat, kak Andri izin check ini duluan sementara aku menunggu bapak keluar di halaman masjid. Aku melirik jam di ponselku, 30 menit lagi pesawat boarding. Aku semakin gelisah, sementara kak Andri terus mengirimi chat dan telpon padaku, katanya penumpang sudah di panggil untuk naik ke pesawat. Fix, aku makin khawatir takut ketinggalan pesawat.

Jarak masjid bandara ke pintu keberangkatan sebenarnya tidak jauh, hanya saja jalannya yang memutar-mutar sehingga terasa lebih jauh. Kak Andri tidak henti-hentinya menelponku, katanya sudah panggilan terakhir, aku langsung saja berlari menuju pintu masuk dengan bapak yang ikut berlari menyeret koperku. Melihatku yang terburu-buru satpam di pintu masuk bertanya “mau kemana dek?” nafasku memburu “mau ke jogja pak” kataku. Satpam itu berteriak kesal padaku “lari sana, pesawatnya udah boarding dari tadi”. Aku menyeret koper sambil berlari, aku melihat kak Andri dengan wajah cemasnya menungguku di depan pemeriksaan barang pertama “dek ayo cepat” katanya.

Kami menuju tempat check ini, namun na’as “sudah tidak bisa check in lag dek” kata petugas. Seketika badanku lemas, aku bingung, kesal dan menyesal. Air mata sudah berkumpul di pelupuk mata, memaksa keluar namun berusaha ku tahan. Terbayang wajah lelah bapak, tiket hangus dan Utul yang akan dilaksanakan besok pagi.

Tbc.

btw aku agak bingung gimana nyeritainnya, jadi bahasanya agak absurd bin acak-acakan hehe. 
cuma mau mengabadikan peristiwa satu tahun lalu aja tentang perkenalan aku dengan kota ini.


Sedayu, 7 Juli 2019

Komentar

  1. First time baca karya Nunung😅

    BalasHapus
  2. Nunggu cerita lain tentang jogja dan kakak karena aku juga punya ambisi untuk kuliah di sana dari kelas 1 sma :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh siap-siap. Ditunggu yak, di Jogja banyak hal yang keren-keren. Cuma akunya aja kurang gaul sampe kiper kalau setiap sudutnya itu istimewa 😁

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA