Cerita Bimbingan #1
Jogja, 21 Juni 2022
Jadi, ceritanya hari ini jadwal bimbingan offline. Kebetulan mau konsul alat ukur. Berhubung belum di kirim, jadilah periksa dulu kelengkapannya di depan ruang bimbingan.
Entah gimana, filenya kok ga ketemu. Bisa jadi karena ngedit terus nyimpannya salah atau kehapus. Lupa juga nama file nya apa, mungkin karena atensinya kepecah kemana-mana. Qadarullah hilang beneran. Yaudah, mau gimana lagi kan?
Memory kemudian me recall pertanyaan Ka Adhi Mohamad saat ditanya soal kegagalan di webinar beliau minggu lalu “Memangnya siapa kita ga boleh gagal?”. Hmmm iya ya, emang siapa kita gaboleh gagal? Manusia kan memang tempatnya salah, teledor, keliru, gagal, saling mengecewakan dan segala kelemahan yang ga mengenakkan lainnya. Bahkan untuk diri sendiri. Jadi nanya ke diri sendiri “emang kamu siapa ngga boleh teledor, Nung?” Hmman iya ya. Kan aku manusia juga.
Saat inget itu, jadi mikir “Kapan lagi kan, Nung ngerasain kek gini?”. Ngerasain dinamika emosional yang bikin ngga nyaman, kesal, ya feelings negativity lah yak.
Namanya manusia. Akhirnya ya cukup menertawakan diri sendiri. Alhamdulillah kan bisa ngerasain dinamika emosional yang cukup menantang. Nikmat banget, berasa ujian manajemen emosi di real life. Harus diterima dulu. Nanti kan tinggal dikerjain lagi. Gampang kan?
So, the conclusion is: Emosi dan perasaan negatif itu juga perlu diterima lho. Sadari apa yang dirasakan, darimana sumbernya, gimana efeknya ke diri sendiri dan sekitar. Setelah itu terima apapun yang dirasakan. Kemudian kelola, dengan berpikir jernih dan temukan penyelesaiannya.
Kalau bisa, syukuri apa yang dirasakan. Termasuk rasa sedih, kecewa, marah, gagal, yang artinya otak kita masih berfungsi baik dalam menerima segala hal tak menyenangkan itu dengan memunculkan perasaan? tadi. Karena ada lho orang yang terganggu fungsi emosionalnya. Jadi gabisa ngerasain hal2 tadi.
Terus jangan lupa maafkan diri, orang lain, lingkungan dan segala hal yang ga mengenakkan tadi. Ya, namanya kita makhluk kan ga sempurna ya. Jangankan orang lain, kadang juga kita bisa kesel sama diri sendiri. Jadi, gapapa kok pernah ngelakuin kesalahan/kegagalan/ keteledoran.
Dan yang penting adalah bagaimana kita merespon, memproses, dan memperbanyak. Kalau gagal, coba lagi. Kalau salah, perbaiki lagi. Kalau kecewa, pahami sumber kecewa dan buat standar kecewamu. Kalau merasa banyak dosa? Banyakin istighfar, banyakin taubat, dan perbaiki diri. Allah maha pengampun kok.
Di posting ulang 25 November 2024
Komentar
Posting Komentar