Asal Usul

Asal Usul

Salah satu aktivitas yang cukup membuat aku tertarik selama sebulan di rumah adalah mendengarkan cerita tentang silsilah keluarga. Aku lupa, kapan rasa ingin tau itu muncul. Seingatku beberapa bulan sebelum pulang pernah telponan sama Ninik dan aku kehabisan topik pembicaraan. Akhirnya ku pilih untuk menanyakan saudara-saudara beliau dan anak keturunannya yang kemudian ku catat dalam sebuah lembaran.

Beberapa minggu setelah dirumah aku berpikir "Kenapa tidak kelanjutkan saja catatan kemarin? Aku sudah cukup usia dan sudah seharusnya tau siapa saja sanak famili serta ada hubungan apa aku dengan mereka".

Pertama kutanya Bibi Ita keturunan Balok Sakmah (ayahnya Nenek dari Mamak), lalu kutanya Papuk Ci'ok keturunan Balok dari Papuk Meme (ayahnya Kakek dari Mamak). Kebetulan waktu itu sekali jalan bareng adek. 

Beberapa hari kemudian ngecek catatan lagi. Ahhh keluarga dari Bapak belum lengkap. Kutanya Bapak untuk mengkonfirmasi beberapa hal dari keturunan Balok Gerebah (Bapaknya Kakek dari Bapak). Fiks, banyak banget orang terdekat yang baru ku tahu berhubungan keluarga dekat. Lanjut kutanya Bapak Keke untung mengetahui keturunan Balok Ali (Bapaknya Nenek dari Bapak), eh kok ini juga banyak banget. Apalagi banyak yang nikah sama sepupu. Lucu pikirku. 

Ahad lalu aku bertemu Keke Selam (Kakak Ipar Bapak). Beliau menceritakan pengalamannya waktu proses 'selabar' (salah satau rangkaian adat sebelum pernikanan) seorang sepupu yang akan menikah. Menanyakan asal usul si calon pengantin dan keturunannya lebih penting sebelum pembahasan tentang wali, maskawin dan lainnya. Kalau kata Ninik sih "Biar tahu, dia keturunan mana dan bisa saling mengakui".

Begitupula pengakuan Kak Mur, sepupu yang baru beberapa bulan menikah. Ketika sampai dirumah calon suaminya waktu itu, ia langsung diceritakan hubungan kekeluargaan diantara mereka. 

"Gila, parah, keren banget". Ini orang Sasak emang gitu banget yak? Tujuh turunan keatas yang memiliki hubungan sepupu aja masih dianggap keluarga. Sangat² menghargai silsilah. 

Malam ini pun masih sempet² nya nanya ini itu sama Ninik Ndok sebelum tidur. Pillow talk berjam-jam malah di suruh nanya ulang lagi sama Ninik biar lebih lengkap dan jelas. Fiks, harus nyiapin otak biar bisa menghubungkan hubungan setiap orang. Buat jaga tradisi silaturahim keluarga hehee.

Dalam salah satu sabda Rasulullah Saw. juga mengatakan bahwa salah satu hal hal yang harus dipertimbangkan sebelum menikahi seseorang adalah perkara keturunan. Bukan untuk sombong atau bagaimana, tapi untuk mencegah hal yang tak diinginkan. Boleh deh baca artikelnya di om google, banyak hehe. 

“Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya dekat. Sebaliknya tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun jauh hubungannya.” (HR al-Bukhāri)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1