Ketidakpastian
Catatan Agustus 2021
Apa yang paling sering membuat orang ragu untuk melangkah? Ketidakpastian.
Sama sepertiku, sejak PPKM Darurat, kemudian PPKM level 4 yang diperpanjang tiap seminggu sekali membuat diri ini semakin bingung bagaimana melangkah. Terutama jika mengingat teman Kelompok KKN yang tengah berjuang di lapangan. Hari-hari menjadi tidak produktif, jadi jarang makan, pencernaan gak lancar, sampe haid pun terlambat. Begitulah salah satu contoh pengaruh kondisi emosional terhadap metabolisme tubuh.
Ada dua hal yang bikin bingung banget. Pertama adalah tentang keberlakuan tes PCR.
Akhirnya, setelah berpikir panjang dan tanya sana-sini aku memilih untuk mengambil satu langkah maju. "Beli tiket aja dulu". Oke, karena kalau nggak ada langkah maju ya bakalan di situ-situ aja.
Setelah beli tiket, langkah selanjutnya adalah memperkirakan waktu tes PCR sebagai salah satu syarat perjalanan. Jadi, selama PPKM, surat keberlakuan tes PCR itu dihitung sejak pengambilan sampel bukan seja keluarga surat hasil. Kalai misalnya ngambil sampel jam 4 sore, maka keluar nya besoknya jam 4 sore sehingga berlaku sampai lusa jam 4 sore. Sementara di rumah sakit/klinik sekitar
Eh paginya malah dapat kabar dari pihak maskapai bahwa penerbangan nya tidak terkoneksi, alias pesawatnya ngga ada yang tujuan Jogja. Apa ini miskaahhh?
Jadi, kan
Agak siangan dikit di telpon sama pihak maskapai, kalau pesawatnya ada tgl 19 Agustus. Apalagi ini, astagfirullah.
Oke, si mba2 CS nawarin penerbangan yang transit Jakarta. Transit nya 6 jam lebih, subhanallah. Langsung aku iyain, gamau nunda lagi.
Ga sampe situ, ini masih bingung nyari tempat PCR yang bisa jadi sehari. Asli inimah, udah mikirin duit yang keluar lumayan, disini juga rumah sakit jauh. Akhirnya ngechat lah minim Ig Bandara. MasyaaAllah langsung diarahin. Fast respon juga, ga cape kali ya miminnya sering ku DM beberapa minggu ini
Dan akhirnya, tadi sore dianterin kakak ke Bandara (pake motor). Sepanjang jalan sambil mikir sambil nenangin diri. Asli, tiep mau swab selalu drama. Untungnya selalu ada yang nenangin. Antibody di temani Kak Galuh *(untuk kelengkapan berkas dauroh), Antigen di tenangin Kak Eka (inimah drama juga sebelum pulang ke Lombok). Jazakumullahukhoir kakak²
Lanjut. Di jalan sambil mikir kalau apapun hasilnya itu sudah takdir Allah. Asli, cemas sama hasilnya. Mana di kejar waktu juga udah ngeluarin uang lumayan. Sampe pada titik pikiran bahwa "Nung, kamu lupa kalau Allah maha kaya?"
Lahhh iya yak. Allah ngasi rezeki pasti ada tujuannya. Entah untuk kita beneran atau sebagai perantara untuk orang lain. Allah tuh kaya banget, sejuta duajuta mah gampang banget buat Allah. Astaga aku.
Oke, masih di jalan. Eh kena ujan. Ya Allah gini amat dah, ngeluh lagi astagfirullah. Mana masih jauh, dan udah sore lagi. Akhirnya trobos ajalah, kita ngga tau hujannya sampe mana. Eh nyatanya makin gede. Tapi lanjut terus, dikit lagi sampe. Udah basah sih sebenernya. Tapi yaudah, waktu Weh.
Nyampe bandara sepi. Asli deh. Kata petugas, hari ini baru 80 orang yang kesana. Ya gimana, sepertinya memang hanya orang-orang kepepet yang melakukan perjalanan di masa-masa kaya gini.
Eh tapi ini masih cemas sama hasilnya. Mana kata petugasnya baru dikabari besok malam.
Ada lagi nih ketidakpastian yang lain. Setelah dihubungi tadi siang, pihak maskapai belum ngirimin email tiket terbaru, sampe mikir "ini beneran ga sih udah reschedule?". Sampe ngecek kontak yang menghubungi. Eh taunya nomor CS nya tak dikenali. Astagfirullah
Lanjut yak wkwkw. Udah cemas inimah. Telponin cs nya berkali-kali di kontak yang tertera pada SMS pemberitahuan. Ngga ada yang angkat. Ya udahlah pasrah aja. Kalau rezeki dan emang Allah kasi kesempatan ya berangkat.
Eh, ini baru banget dapat email. Dapat pemberitahuan kalau penerbangan dialihkan, tadinya jam 7 pagi jadi jam 9. Kaget dong saia, tapi yaudah lah ya bisa mempersingkat waktu transit juga "GPP Nung".
Ya gitu deh. Masa-masa ini emang emosi lagi di uji dengan segala hal diluar kendali. Kadang2 cemas, kadang2 stres, bingung harus bagaimana. Sampai kadang lupa bahwa ternyata punya kekuatan untuk mengendalikan diri. Menyadarkan diri bahwa memang ada beberapa hal yang tak bisa kita kendalikan, seperti kondisi dunia saat ini, bagaimana orang lain berpikir dan bersikap pada kita. Dan yang bisa kendalikan adalah bagaimana kita bersikap terhadap situasi² tadi. Jadi, untuk sesuatu yang berada diluar kendali yaudahlah pasrahkan saja. Semua hasil dari sesuatu yang sudah kita usahakan itu di tangan Allah. Hal yang sering banget dilupakan hingga seringkali menimbulkan kekecewaan.
Asli. Berpasrah, bertawakkal, dan menyerahkan segala hasil yang sudah kita usahakan itu menenangkan banget. Percaya
deh, Allah pasti ngasi yang terbaik.
Bismillah aja dulu, usaha terus tawakal.
Ya pokoknya sebenar-benarnya pasrah deh
yak. Itu juga kekuatan kita. Kekuatan menyerahkannya diri pada Allah.
Teringat sebuah kutipan dalam novel yang pernah saya baca, begini katanya "Hidup dapat kita menangkan ketika kita mampu mengendalikan mental". Termasuk bagaimana kita berpasrah setelah berusaha.
Moon maap kalau ga nyambung. Tapi makasih buat yang baca sampai akhir. Semoga di setiap usaha kita, selalu ada kepasrahan pada sang pemilik kita ya. Ia yang tau mana yang terbaik untuk kita dan Ia pula yang paling tau apa yang kita butuhkan.
Komentar
Posting Komentar