Pandemi, Pemuda dan Kesehatan Mental


Berbicara tentang pemuda, maka kita akan berbicara tentang masa depan. Karena kondisi kehidupan masyarakat di dunia di masa yang akan datang ditentukan oleh kondisi pemuda di masa sekarang. Adapun rentang usia individu disebut pemuda menurut UU RI Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan adalah setiap warga negara yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun,yang mana pada usia ini seseorang sedang berada pada tahap mengembangkan potensi, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-citanya.

Akan tetapi, kondisi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak tahun lalu menyebabkan perubahan di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Penerapan pembatasan sosial menyebabkan pengaruh yang signifikan pada kehidupan pemuda. Misalnya di bidang Pendidikan, sebagai siswa/mahasiswa harus menjalankan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan media pertemuan online, mereka tidak bisa berinteraksi langsung dengan teman-teman dan guru mereka. Banyak juga yang mengaku susah memahami pembelajaran dan banyak pula yang mengalami hambatan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kemudian di bidang ekonomi dan pekerjaan, usia muda adalah usia produktif dimana mereka mulai banyak menghasilkan sesuatu termasuk mencapai kemandirian finansial. Akan tetapi karena pandemi, banyak diantara pemuda mengalami kesulitan dalam mendapat pekerjaan dan bahkan ada yang kehilangan pekerjaan.

Tantangan-tantangan tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan mental pada diri pemuda. Hal ini didukung oleh hasil studi dari USA Mental Health First Aid (2020) yang menunjukkan bahwa pada akhir Juni terdapat 40% orang dewasa Amerika Serikat berjuang mendapatkan kesehatan mental karena penggunaan zat terlarang. Satu dari enam remaja Amerika Serikat yang berusia 6-17 tahun mengalami gangguan kesehatan mental setiap tahun. Kemudian setengah dari semua penyakit mental seumur hidup dimulai pada usia 17 tahun dan 75% pada usia 24 tahun. Adapun bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua diantara orang dengan usia 10-34 tahun. Lebih dari 70% pemuda didiagnosa menderita gangguan mental dengan kasus tertinggi adalah gangguan kecemasan. Sementara depresi merugikan negara sekitar $210,5 miliar per tahun. Data ini menunjukkan bahwa bahkan negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalan kesehatan mental.

Sementara data yang bersumber dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat bahwa selama pandemi covid-19, hingga Juni 2020, ada sebanyak 277 ribu kasus kesehatan jiwa di Indonesia yang sebagian besar disebabkan oleh tekanan mental, stress akibat kehilangan pekerjaan dan pembatasan sosial. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan sehingg perlu ada tindakan serius dalam upaya meningkatkan kesehatan mental pemuda.

Kesehatan mental menurut WHO adalah keadaan sejahtera dimana individu mampu mengenali potensi dirinya, mampu menghadapi tekanan hidup sehari-hari, dapat bekerja secara produktif dan mampu berkontribusi/bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Oleh karenanya, penting untuk pemuda dalam menjaga kesehatan mental sekaligus menjadi pelopor terciptanya kesehatan mental masyarakat Indonesia. 

Menurut profesor sekaligus psikiater klinis dari Langone School of Medicine, Charles Goodstein, menyampaikan bahwa sebenarnya otak manusia itu berhubungan erat dengan sistem endokrin. Sistem endokrin bertugas untuk melepaskan hormon-hormon yang dapat memengaruhi keadaan mental seseorang. Begitu juga dengan kondisi pikiran dan perasaan akan sebaliknya memengaruhi hormon-hormon yang berperan penting dalam sistem kerja organ tubuh. Hal ini kemudian akan berpengaruh pada perilaku seseorang. Karena ketika kondisi mental nya sehat maka pikiran dan perasaan akan memerintahkan tubuh untuk melakukan kegiatan yang produktif dan bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain itu, kesehatan mental juga berhubungan erat dengan relasi sosial. Ketika seseorang berada pada lingkungan yang supportif,  maka akan memudahkannya untuk mengembangkan diri baik secara kemampuan maupun kepribadian. Begitu juga sebaliknya, ketika berada di lingkungan yang sering merendahkan, maka akan berpengaruh pada harga diri dan pandangan terhadap diri sendiri yang erat kaitannya dengan kesehatan mental. Dan saat mengalami permasalahan mental, orang akan cenderung menghindar dari orang lain, menutup diri, atau bahkan jadi lebih sensitif pada orang lain yang dapat menimbulkan prasangka buruk orang lain. Oleh karena itu, penting untuk peduli terhadap kesehatan mental. Karena bagaimana seseorang berpikir, bertindak, mengelola emosi, berinteraksi dengan lingkungan tidak terlepas dari kondisi mental.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan pemuda untuk menjaga kesehatan mental diantaranya:

1.      Menciptakan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makan-makanan yang sehat, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup.

2.      Belajar menerima kondisi saat ini. Menerima diri apa adanya dan memaafkan kesalahan di masa lalu akan membuat perasaan menjadi lebih positif.  Penting juga untuk menyadari bahwa bahwa pandemi Covid-19 merupakan hal yang berada diluar kendali sehingga yang bisa dilakukan adalah mengontrol diri bagaimana menghadapinya.

3.      Menyaring asupan berita yang dikonsumsi. Setiap hari media menyajikan begitu banyak macam informasi baik yang benar-benar fakta maupun berita yang masih belum terbukti kebenarannya yang tidak jarang menimbulkan kecemasan. Oleh karenanya, asupan berita yang bertebaran perlu disaring dan perlu di kelola jumlahnya.

4.      Melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan. Hal ini efektif mengalihkan perhatian dari hal-hal  kurang menyenangkan yang tidak bisa dikendalikan agar kondisi emosional lebih seimbang.

5.      Membangun komunikasi dengan orang terdekat seperti bercerita kepada keluarga maupun sahabat mengenai apa yang dirasakan dapat memunculkan perasaan lega sehingga suasana hati akan lebih tenang dan nyaman.

6.      Meluangkan waktu untuk fokus pada diri sendiri dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain serta melakukan self talk. Self talk merupakan kegiatan berbicara kepada diri sendiri mengenai apapun yang dirasakan kemudian menyampaikan kalimat-kalimat positif pada diri sendiri. Hal ini mampu menurunkan risiko kecemasan, menghilangkan persepsi negatif, dan memberi kesempatan untuk mengontrol diri.

 

 

Referensi:

5Maynard, M. S. (2020, 5 November). 10 surprising mental health statistics from 2020. USA Mental Health First Aid. https://www.mentalhealthfirstaid.org/external/2020/11/10-surprising-mental-healthstatistics-from-2020/

            Rich, Mandy. 2020. 6 tips remaja bisa menjaga kesehatan mental selama coronavirus (COVID-19). UNICEF Indonesia.  https://www.unicef.org/indonesia/id/coronavirus/tips-remaja-menjaga-kesehatan-mental-selama-covid-19?gclid

    Prudential. 2021. 8 Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19. https://www.prudential.co.id/id/pulse/article/8-cara-menjaga-kesehatan-mental-selama-pandemi-covid-19/

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1