Bebas dari rasa cemas, takut, sedih dan pikiran negatif


 


Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai macam informasi, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bangun tidur ngecek hp, membuka sosial media melihat ada berapa banyak orang yang like postingan kita dan apa aja isi komentarnya. Nggak lupa ngecek berita yang sedang trending, setekah itu scrolling ngeliat postingan temen tentang liburannya, dokumentasi aktivitasnya yang terlihat bahagia, pamer pakaian baru atau barang branded, ya pokoknnya hidupnya keliatan sempurna deh. Dan kadang itu bikin kita ngebandingin diri dengan kehidupan orang lain dan malah bikin kita jadi insecure. Kita mulai kesel dengan diri sendiri, ngerasa nggak bahagia, hidup nggak sempurna. Kita mulai mikir gimana caranya biar kaya gitu juga, gimana caranya nutupin kesedihan dan keminderan yang kita rasain, dan gimana caranya bahagia kaya mereka .

Sebenernya, ada begitu banyak alasan kenapa kita ngerasa sedih. Salah satunya kita lupa kalau hidup ini emang nggak sempurna. Nggak ada orang yang sempurna. Setiap orang di dunia ini di uji sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

            “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan” (Al-Baqarah:155)

 

Allah nguji kita dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta dan banyak hal lagi yang bisa membuat kita ngerasa sedih, takut dan cemas.  Padahal sedih, cemas dan emosi negatif lainnya adalah bagian dari hidup. Emosi merupakan anugerah yang Allah berikan, semua orang ngerasain perasaan ini.  Dan itu normal.

Nabi Yakub pernah ngerasa sedih banget sampe menangis hingga membuatnya buta  ketika berpisah dengan putranya (Nabi Yusuf). Ibunda Maryam, wanita yang sempurna keimanannya pernah merasakan kecemasan dan kesedihan yang begitu besar ketika akan melahirkan Nabi Isa a.s. Bahkan, Rasulullah, manusia terbaik juga pernah ngerasain kesedihan yang begitu mendalam ketika istri dan paman yang dicintai meninggal dunia dalam jangka waktu yang berdekatan.

Dan ketika kita diberi kesusahan seperti itu, maka kita harus menyadari bahwa Allah sedang menguji kita dan tidak akan melewati batas kemampuan kita. Jadi, Allah itu tau sebenernya kita mampu melewati apapun tantangannya. Tapi sayangnya, kita seringkali meragukan kemampuan kita sendiri padahal Allah sendiri sudah menciptakan kita sekaligus memberi kita kekuatan dan ketangguhan menjalani hidup.

Berdasarkan penellitian psikologi, hadis dan Al-Qur’an. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menolong diri sendiri dan orang lain ketika merasa sedih, takut, cemas dan berpikir negatif, diantaranya:

1.    Mengatur nafas

Bernafas dapat mengubah emosi dengan cara menambah durasi ketika menghembuskan nafas. Ketika bernafas terjadi pertukaran antara oksigen dan karbondioksida yang dapat menurunkan detak jantung, menurunkan tekanan darah sehingga membuat kita menjadi lebih rileks.

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan seperti teknik 4-4-5 yaitu 4 detik menarik nafas, 4 detik menahan nafas dan 5 detik mengembuskan nafas. Cara ini terbukt membantu menetralkan emosi. Dan yang luar biasa adalah cara ini dapat dilakukan dimanapun, kapanpun, mudah dan pastinya gratis.

 

2.    Terhubung dengan Allah SWT. melalui sholat, berdoa dan membaca Al-Qur’an.

Berdoa membantu mengurangi perasaan cemas, karena selain karena meminta kepada Allah, ketika berdoa kita menumpahkan segala sesuatu yang kita alami, kita keluarkan segala yang kita rasakan beserta kesulitan-kesulitannya. Dan ketika berdoa pun tanpa sadar tengah mengeluarkan segala hal yang bersarang di otak kita sehingga kita menjadi lebih “plong”, lebih lega. Rasulullah juga mengajarkan kita untuk membaca do'a ini setiap pagi dan petang:


اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ,وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ,وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ, وَاَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّ جَالِ


Artinya: “Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung daripada sifat lemah dan malas, dan aku berlindung padamu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung padaMu dari cengkaman hutang dan penindasan orang”.

 

Allah memanggil kita 5 kali dalam sehari untuk terhubung dan berkomunikasi dengan-Nya. Dalam penelitian McCullough juga menemukan bahwa saat seorang muslim mengalami stress kemudian shalat maka ia akan mampu melihat situasi yang membuatnya stress dari arah positif sehingga mampu menenangkannya secara fisik maupun psikologis. Karena ketika sholat kita akan berserah diri, merendahkan diri di hadapan Allah. Dan sadar atau tidak, ketika sholat yang dilakukan khusyu akan menimbulkan sensasi dan ketenangan pada diri kita.

Kemudian Allah memberi qur’an sebagai obat yang menyembuhkan. Ketika terhubung dengan Qur’an kita seakan-akan berkomunikasi dengan Allah. Hal sederhana yang banyak orang lakukan adalah ketika merasa sedih, kecewa, kesusahan atau perasaan-perasaan negatif lainnya lalu mereka membuka Al-Qur’ an secara random, seringkali Allah tenangkan dengan ayat-ayatnya yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita. Rasanya ajaib aja gitu, kaya Allah itu tau kondisi kita.

 

3.    Bersyukur

Ada begitu banyak jurnal dan penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa bersyukur sangat bermanfaat untuk kesehatan mental terutama untuk mengatasi kecemasan. Bersyukur mampu meningkatkan hormon dopamin (kebahagiaan) dan serotonim (mood/suasana hati) dalam tubuh  sehingga kita merasa lebih bahagia. Dan ketika bersyukur, kita akan berpikir hal-hal baik serta nikmat yang Allah berikan. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim : 7)

 

4.    Senyum

Ketika tersenyum, tanpa sadar kita memberikan sinyal positif pada tubuh sehingga menimbulkan perasaan yang lebih nyaman. Sebuah eksperimen penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari University of South Australia, meminta responden untuk menggigit pena sehingga memaksa bibir mereka untuk tersenyum mampu merangsang amigdala melepaskan neurotransmiter untuk mendorong suasana emosi positif. Meskipun tergolong senyum palsu yang dipaksakan, pada dasarnya dapat mengelabui pikiran untuk menerima ekspresi dari orang lain terlepas dari kondisi mental masing-masing. Benarlah kata Rasulullah saw. bahwa

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimua” (HR. Tirmidzi).

 

5.    Menghabiskan waktu bersama orang tersayang

Menghabiskan waktu bersama orang tersayang seperti keluarga, sahabat, ataupun pasangan (buat yang punya) bermanfaat mengurangi rasa cemas dan takut. Ingat nggak ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertama? Beliau begitu ketakutan hingga tubuhnya gemetar hebat. Beliau kemudian meminta Ibunda Khadijah menyelimutinya sampai beliau merasa lebih tenang baru menceritakan apa yang dialami di gua hira. Penelitian juga menunjukkan bahwa sentuhan orang terkasih efektif menjadi antidepresan. Ketika kita merasa sedih, lalu mendapatkan sentuhan berupa pelukan ataupun tepukan pada bahu kita akan merasa lebih disayang, dipedulikan, diperhatikan seolah-olah ada transfer energi di dalamnya sehingga memunculkan perasaan lega dan tenang. Begitupula ketika bersalaman dengan saudara kita (kecuali non mahram), selain berpahala juga menimbulkan perasaan positif.

 

“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud)

 

itu tadi, beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi cemas, takut, sedih dan pikiran negatif. Akan tetapi jika perasaan-perasaan tadi menggangu kehidupan dan produktivitas maka segera cari bantuan. Hubungi seseorang yang kamu percayai, orang tua ataupun sahabat bahkan profesional seperti psikolog dan psikiater agar segera di tangani. Karena sesungguhnya kesehatan tidak hanya tentang fisik tetapi juga jiwa yang menggerakkan fisik itu untuk berperilaku.

 

Referensi: Ustadzah Dunia Shuaib (ICNA-MAS Convention), "Freedom from Anxiety, Depression, and Negative Thoughts, 2017, Youtube: https://youtu.be/_1B60L4m60M


Nungs, yang sedang belajar😎

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1