Teruntuk Kamu Pengejar Cita
Hai, kali ini mau bahas tetang cita-cita, suatu hal yang secara subjektif di perjuangkan seseorang. Sesuatu yang menjadi motivasi dalam bergerak, melakukan apa saja untuk mencapainya, yang sangat berharga dan sangat ingin di raih. Ya, semacam berburu harta karun dalam cerita Si Entong dulu wkwk. Entong dengan jalur ‘bener’ nya dan Memet dengan jalur ‘curang’nya.
Penting banget sih buat kita sebagai seorang individu memiliki cita-cita sebagai sesuatu yang kita perjuangkan. Untuk apa? Agar hidup yang kita jalani lebih terarah, lebih matang, dan tau mau kemanakan. Akan tetapi permasalahannya di usia kita saat ini banyak yang belum tau sebenernya diri nya sendiri tuh “mau nya apa?”. Dan bahkan banyak yang belum tau bakatnya apa, kepribadiannya gimana, senengnya ngapain aja, dan lain sebagainya. Karena itu kita banyak menemukan perilaku “ikut-ikutan” temen. Kalau itu baik dan bermanfaat ya gpp, tapi kalau malah merugikan dan menimbulkan masalah kan gak baik untuk diri sendiri dan orang sekitar.
Oleh karena itu, kita sebagai seorang individu perlu kenal diri dulu sehingga tau cita-cita yang ingin di raih apa. Tahapan sederhananya sih harus kenal diri dulu sih. Cari tau bakat, minat, passion kita, kemudian kebutuhan kita, direstui atau tidak oleh orang tua, dan apakah itu mendatangkan manfaat atau tidak, dan yang paling penting sih berkah atau tidak.
Karena cita-cita itu menentukan arah hidup, maka dari itu kita gaboleh main-main. Jadi, ayo segera kenali dirimu. Tapi kan mengenal diri itu proses seumur hidup? Betul, manusia memang dinamis selalu berubah-ubah . Tapi kita punya nilai, kita prinsip hidup sebagai dasar yang menguatkan. Nah, dalam konteks kita sebagai muslim sudah seharusnya punya cita yang tidak biasa. Bukan hanya sekedar cita biasa yang bersifat keduniawian. Harus ada visi akhirat disana sehingga langkah perjuangan kita tidak terbatas. Contohnya, cita-citanya mau masuk PTN jurusan ekonomi, lantas ketika sudah masuk akan tetap sama? Tidak. Kemungkinan besar akan ada cita lanjutan, misalnya jadi pengusaha setelah lulus. Lantas sampai disitu? Tidak juga, bisa jadi ada niatan mau melebarkan usaha dsb. Sesuatu yang bersifat keduniawian memang tidak ada habisnya. Oleh karena itu perlu adanya visi ke akhirat. Karena sejatinya, di dunia saat ini merupakan tahap awal perjalanan kita sebelum ke alam keabadian. Oleh karena itu perlu di persiapkan sejak saat ini.
Ketika
kita sudah kenal diri, lalu menentukan cita, maka kita melakukan hal-hal
berikut:
1.
Usaha
Dalam konteks kita sebagai penuntut ilmu, Maka belajarlah yang rajin dan dengan cara yang benar. Benar disini artinya mengikuti prosesnya dengan benar, dengan jujur. Nggak main contek. Biar berkah.
Kemudian buat beberapa rencana, karena dalam tahap berproses kita akan menemukan banyak hal yang tidak terduga. Buatlah peta rencana A, rencana B, dan rencana C. Petakan jalur apa saja yang bisa kita tempuh untuk mencapainya. Lalu pikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Contohnya kita mau masuk kuliah. Ada banyak jalur masuk, pertama ada SNMPTN, SBMPTN, Mandiri, undangan masuk universitas swasta, ujian masuk universitas swasta, ada lagi jalur masuk khusus universitas islam negeri namanya SPANTPTKIN, UMPTKIN, dan masih banyak jalur lainnya. Kemudian untuk jurusan, misalnya maunya masuk jurusan kedokteran aja, yasudah manfaatkan semua jalur itu. Tapi kalau ada jurusan pilihan kedua ya boleh dijadikan bahan pertimbangan.
Kemudian usaha juga sering ikut lomba, nambah pengalaman dan kalau bisa berprestasi disitu ya kenapa nggak? Lumayan bisa jadi bahan pertimbangan ketika mendaftar dan bisa jadi motivasi juga buat orang lain.
Lalu, sering ikut Try Out UTBK buat latihan dan belajar bersaing. Belajar kelompok bareng temen-temen biar dapat lingkungan dengan tujuan yang sama sekaligus mendapat support dari mereka.
2.
Doa
Berdoa semoga Allah takdirkan disana, kemudian Allah mudahkan prosesnya, Allah mampukan perjuangan kita. Jangan lupa minta di doakan sama orang tua, keluarga dan orang-orang yang akrab dengan kita. Kita nggak tau doa mana yang akan Allah ijabah. Kalau buat kita yang muslim, doa ini senjata banget sih. Allah juga berfirman dalam Al-Mu’min ayat 60 “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”.
3.
Perbaiki dan perbanyak amal kebaikan
Amal kebaikan disini maksudnya nggak cuma kebaikan untuk orang lain, tapi juga diri sendiri. Kebaikan untuk diri sendiri misalnya memperbaiki hubungan kita dengan Allah dengan memperbaiki sholat, perbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, perbanyak amalan sunnah misalnya dhuha, tahajud dan puasa. Kemudian kebaikan pada orang lain misalnya sering bantuin temen, ngajakin temen sholat atau melakukakn kebaikan, semisal sedekah, atau sesederhana ngasi semangat ke temen itu juga udah termasuk kebaikan.
Nah, ketika kita berbuat baik kepada sesama itu artinya berbuat baik juga pada diri sendiri. Karena ketika kita berbuat baik itu akan memunculkan perasaan bahwa kita mampu “berguna” atau “bermanfaat” untuk orang lain. Perasaan positif itulah akan menaikkan harga diri kita dan membuat kita nyaman sehingga dapat meningkatkan kualitas produktivitas.
Ada juga nih salah satu kisah nyata. Seorang temen SMA waktu itu lulus SNMPTN di salah satu universitas keren di Indonesia. Secara prestasi akademik dia nggak terlalu menonjol, bahkan nggak pernah masuk list rangking satu di angkatan, tapi dia bisa tembus SNMPTN di PTN yang karen banget. Suatu ketika aku jalan sama dia, di tengah jalan ketemu seorang Ibu yang barangnya jatuh di jalanan. Eh dia cepet-cepet nyuruh berhenti, lalu turun ngebantuin si Ibu. Aku speechless sih. Pernah juga di akhir semester pertama kelas tiga dia ngajakin galang dana untuk saudara-saudara di palestina bareng temen-temen lain dari Sekolah yang berbeda. Dari seminggu waktu yang kami agendakan, dia nggak pernah absen. Sampai suatu hari aku tanya apa kuncinya bisa lolos PTN, dia cuma bilang “berdoa di waktu yang msutajab” Masyaa Allah. Padahal dia care banget sama orang, sering nyemangatin orang juga. Mungkin dari doa orang-orang yang pernah di tolong itu juga yang menjadi wasilah terkabulnya harapan dia.
4.
Perbaiki hubungan dengan orang tua
Sering-seringlah minta maaf sama beliau, nyenengin hati beliau, minta restu beliau untuk segala sesuatu yang sedang dan akan kita usahakan. Seperti sabda Rasulullah SAW. “Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua, dan murka Allah tergantung kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim).
Ketika kita merasa kesulitan menghadapi sesuatu, coba cek apakah orang tua kita ridho atau tidak. Ketika kita sedang mengalami ujian kehidupan, coba cek hubungan kita dengan orang tua, kalau sedang tidak baik-baik saja maka segera minta maaf dan perbaiki hubungan kita.
Pernah nih waktu itu salah seorang teman nggak lulus-lulus ujian masuk PTN. Dia kekeh banget mau masuk jurusan ekonomi dan udah disiapin sejak SMA, sampe ikut tim olimpiade ekonomi juga. Tetapi orang tuanya nggak ngizinin, malah disarankan masuk Bahasa Inggris. Akhirnya, di kesempatan terakhir dia daftar di jurusan Bahasa Inggris langsung lulus, jalannya juga di mudahkan alhamdulillah. Pikirku sih ini karena orang tuanya ridho.
5.
Tawakkal
Ketika semua ikhtiar sudah kita lakukan, maka pasrahkan semua hasilnya pada Allah supaya kita terhindar dari kekecewaan yang berlebihan.
Apalagi ketika hasil tidak sesuai dengan harapan. Dengan bertawakkal kita akan lebih nerima atas segala hasil yang kita peroleh. Karena Allah ngabulin hal yang kita inginkan itu nggak hanya langsung dikabulin, tapi juga dikabulin nanti di saat yang tepat, atau diganti dengan yang lebih baik. Karena Allah yang paling tau kebutuhan kita. Dan belum tentu yang kita harapkan itu sesuai dengan yang kita butuhkan.
6.
Tidak membandingkan
Tidak membandingkan disini artinya tidak membandingkan proses yang sudah dilalui oleh diri sendiri dengan orang lain. Misalnya “kok aku yang selalu dapat rangking nggak lulus tapi malah dia?” atau “wajarlah aku keterima karena aku kan usaha, lah kamu mah kerjaannya main terus”. Udahlah setiap orang punya jalannya masing-masing yang nggak bisa kita intervensi. Tapi menjadikan seseorang sebagai contoh atau motivasi itu boleh. Yang pasti jangan membandingan karena nggak sehat banget buat mental.
7.
Mengapresiasi diri sendiri yang sudah berjuang.
Ketika kita sudah melewati perjalanan yang panjang, terlepas dari itu berhasil atau tidak sudah seharusnya kita berterima kasih pada diri sendiri. Sudah mau bekerja sama, capek bareng, nangis bareng, usaha bareng. Bolehlah kita sekali-kali makan makanan favorite, atau jalan-jalan, pokoknya melakukan sesuatu yang suka deh sebagai bentuk apresiasi. Supaya apa? Supaya kita tetap merasa berharga dan tetap percaya sama diri sendiri. Karena kalau bukan diri sendiri yang percaya, lantas siapa lagi? Jadi, jangan lupa mengapresiasi diri.
Nah,
mungkin hal-hal diatas bisa jadi sedikit tips yah buat menemani perjuangan
perjalanan kita hehe. Dan aku nulis gini juga bukan berarti sudah sempurna,
tapi masih berproses juga sampai sekarang. Bismillah bisa yak J
“Semua orang berhak bercita-cita dan setiap cita-cita berhak diperjuangkan. Tidak ada cita-cita yang baik atau buruk, semua tergantung pemaknaan dan apakah mendatangkan kebermanfaatan atau tidak. Semangat berproses”
Nungs,
yang sedang belajar 😎
Komentar
Posting Komentar