Drama SPP #1


Hidup memang penuh drama, setiap hari pasti ada saja drama kehidupan yang menghampiri sejak kita bangun tidur sampai tidur lagi. Dan drama kehidupan kita tidak akan pernah selasai sampai denyut nadi berhenti.
Yaaaaa begitulah hidup. Ibarat secangkir kopi, pahit manisnya tergantung kita bagaimana menikmatinya. Lantas bagaimana jika dalam secangkir kopi itu yang mendominasi adalah rasa pahit dibandingkan rasa manis? Maka, yang perlu dilakukan adalah dengan menerima rasa itu. Pahitnya sebagai sebuah rasa yang jujur, hitamnya sebagai bentuk penampilan yang apa adannya. Yang perlu dilakukan adalah menikmati, maka lambat laun kopi itu hanya akan tinggal cankirnya saja. Seperti itu kira-kira.
Aku teringat salah satu kalimat yang pernah Mba Iin utarakan padaku beberapa waktu lalu. Kurang lebih intinya berginin "orang tua tuh kalo kita minta uang pasti gimana pun susahnya, gimanapun gak ada, pasti di usahain. Tiba-tiba aja gitu ngasi tau kalo udah transfer". Dan itu memang terbukti, orang tua gak mau liat anaknya susah. Makanya kita di sekolahin tinggi-tinggi "Gak mau liat kamu susah kaya bapak/ibu dulu. Makanya sekolah yang bener. Banggain bapak/ibu" petuah orang tua jika anaknya mulai malas-malasan belajar. Apalagi jika anak berada jauh di rantauan.
Hari itu, aku bener-bener gak habis pikir sama kebijakan kampus. Siapa yang gak kaget coba? Tiba-tiba petugas TU bilang kalau aku belum bayar SPP, sehingga namaku tidak tertera di data peserta ujian. Padahal dua hari lalu tidak ada masalah. Ketika aku minta stempel dan tanda tangan kartu peserta yang wajib menyertakan lembar tagihan, petugas TU tidak ada masalah. Eh malah tiba-tiba bilang "sistem ICT sudah di refresh mba, jadi berubah gitu. Kalaupun mba nganter ujian sekarang, dosennya gak bisa masukin nilainya mba". Byarrrr gw mesti gimana ini? Yakali minta duit 3,5 juta tiba-tiba gini? Gapunya hati banget aku yak, beberapa hari lalu juga minta tambahan😩

Tapi kalo ga ngomong sekarang gabisa ujian dong? Terus kamu mau ngadu ke siapa? Kan sumber beasiswa tuh cuma bapak seorang. Subhanallah. Akhirnya kuputuskan buat nelpon bapak, kebetulan ada teh Ami yang nemenin dari tadi kesana kemari dari ke TU, keuangan, sampe ke ruang dosen. Ku tahan isak sudah diujung pelupuk mata. Tak kuasa mengeluarkan suara hanya sekedar mengadu. Aku sudah buntu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1