Mental Health

Pict from: Mr. Google


Dalam beberapa bulan belakangan ini, dunia hiburan kembali dikejutkan dengan meninggalnya dua orang artis Korea yang merupakan mantan anggota girband terkenal. Mereka di duga bunuh akibat depresi akibat bullying. Kematian mereka menambah daftar kasus bunuh diri di kalangan artis akibat depresi. Tak dapat di pungkiri, korea selatan memang salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia, yang semakin memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan mental disana sangat menghawatirkan.

Sebenarnya, kita tidak perlu jauh-jauh melihat ke Korea sana. Karena kasus kesehatan mental di Indonesia juga cukup menghawatirkan. Apalagi jika melihat hasil Riset Kesehatan dasar (2018) penderita skizofrenia, gangguan emosiaonal, depresi, alkoholik dan gangguan jiwa berat lainnya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kasus depresi misalnya, pada 2018 sebanyak 6,1% penduduk Indonesia diatas usia 15 tahun menderita depresi. Kasus gangguan emosonal sebesar 9,8%, meningkat dibandingkan tahun 2013 sebesar 6%. Belum lagi kasus gangguan jiwa berat lainnya.

Masalah kesehatan mental ini sangat berdampak pada bertambahnya beban di setiap lini kehidupan. Karena apabila gangguan jiwa tidak segera di tangani akan menurunkan produktivitas yang akan berakibat pada berkurangnya pendapatan yang kemudian menyebabkan masalah sosial ekonomi semakin kompleks.

Lantas bagaimana menghadapinya?

Perlu adanya kerjasama antara setiap elemen masyarakat, baik itu dari masyarakat itu sendiri sebagai individu dan sebagai warga masyarakat maupun peran dari pemerintah. Kita tidak dapat mengandalkan satu elemen saja, karena jika begitu masalah ini tidak akan dapat di tangani.

Pemerintah perlu menyediakan fasilitas yang mendukung, seperti menyebarkan psikolog atau profesional kesehatan mental di puskesmas-puskesmas, memudahkan ruang gerak pemerhati kesehatan mental dalam mengedukasi masyarakat dan lain sebagainya. Bisa juga dengan tidak mematok biaya kuliah psikologi  terlalu mahal atau bahkan memberikan beasiswa kepada kami (sebagai mahasiswa psikologi) agar profesional di bidang kesehatan mental semakin banyak dan dapat memenuhi kebutuhan negara.

Selain itu juga, masyarakat indonesia juga masih sangat minim literasi tentang kesehatan mental. Maka dari itu perlu diberikan edukasi tentang pentingnya kesehatan mental, bagaimana mengurangi dan menanganinya. Mengingat di masyarakat masih banyak stigma negatif yang berkembang sehingga mendiskriminasi para penderita gangguan mental.

Masyarakat sebagai ndividu juga`tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau lingkungan saja. Individu harus mampu menyadari kondisi mentalnya sendiri. Karena untuk mengubah sesuatu harus berawal dari diri sendiri.

Individu arus mampu mengelola pikiran, perasaan dan perilakunya. Pikiran yang positif akan melahirkan perasaan yang positif sehingga akan membentuk perilaku yang positif. Karena pada dasarnya individu tidak bisa mengontrol lingkungan tetapi bisa mengontrol dirinya sendiri.

Ketika di hadapkan dengan suatu permasalahan, sesuatu yang terlihat ruwet bagaikan benang kusut maka yang perlu lakukan adalah mengurai. Selesaikan permasalahan satu persatu dan percaya bahwa masalah itu pasti akan selesai. Ingatlah pengalaman paling menyulitkan di masa lalu yang berhasil di lewati, maka begitupula dengan permasalahan saat ini pasti akan mampu juga di lewati. Jika merasa masalah itu terlau sulit untuk di selesaikan sendiri, maka segera cari bantuan. Berceritalah. Ungkapkan apa yang di rasakan pada orang orang kepercayaan.

Begitupula sebaliknya jika ada teman yang sedang ingin bercerita tentang apa yang dirasakan saat itu, cukup dengarkan saja meskipun tidak memberi solusi. Karena mendengarkan atau menjadi pendengar adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental yang paling sederhana.






Komentar

  1. Lumayan memberikan pengetahuan tentang keadaan bagaiamana kesehatan mental masyarakat negara. Tolong artikel2 seperti ini di perbanyak dengan data-data yang mendukung, disertakan dengan sumber data yang valid. Matur tampiasih

    BalasHapus
  2. Kalau menuutm saya kerusukan mental itu bukan semata mata dari efek sesorases melainkan tingkat kurang percaya diri lebih tinggi sehingga banyak orang yang memiliki sifat ini cepat mengalami defresi,jadi disini upaya untuk mengatasinya tidak lepas dengn psikolog karena ini bidang yang sesunguhnya yang di perankan oleh psikolog itu sekdiri itu merubah jiwa menset sesorang yang defresi hingga menjadi normal jika itu berhasil maka disinilah tingkat kinerja psikolog itu benar benar bagus

    BalasHapus
  3. Semangat dari orang terdekat, walaupun sekecil apapun sangat berarti. Dan jangan lupa, penanggulangan utama untuk mengatasi masalah seperti selalu mengingatNya, lebih mendekatkan diri kepadaNya. Karena sebaik-baik penolong adalah hanya kepada Sang Pencipta. Semoga yang sedang mengalami hal seperti segera dipulihkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1