Tentang Hallyu



Pict from: Om Google

Annyeonghaseyo Chinguyaaa

Dari judulnya udah tau dong yang mau di bahas apa? Iyapsss. Tentang Korea
Hayooo siapa yang seneng sama hal-hal yang berbau Korea?
Yang nulis apa lagi :v dari jaman esde udah kenal korea-koreaan tapi sampai sekarang ngga bisa nulis hangeul apalagi baca *hiks 

Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri (gaada yang nanya padahal).
Saya adalah seorang Korean Addict, yang menyukai segala hal yang berbau Korea. Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang *eh terutama K-Pop dan K-Drama nya. Saya kenal K-Pop dari jaman esde, kemudian K-Drama nya sejak SMP. Suka duka menjadi Korean addict itu pernah saya alami. Dinyinyirin pernah, debat di sosmed pernah, nangis juga pernah. Seringkali saya kesal “Kenapa yang paling sering di nyinyirin itu K-Popers? Kenapa para pecinta Jejepangan alias Wibu nggak di nyinyirin juga? Terus yang suka Western, India juga nggak?”. Jawaban yang saya temukan sementara ini adalah karena para pecinta K-popers itu suka debat, menjatuhkan satu sama lain. Yang bias atau idolanya berbeda saja bisa saling bermusuhan, padahal sama-sama penyuka K-Pop. Berbeda dengan para penyuka anime, saya belum pernah menemukan mereka berdebat, malah yang saya temukan mereka berbagi anime dan begitu juga dengan pecinta western maupun India.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin menjelaskan kalau K-Pop dan K-Drama itu adalah bagian dari Korean wave atau Hallyu Wave. Dimana, Korean Wave ini adalah sebuah gelombang besar dari Korea Selatan untuk menyebarkan segala hal yang berhubungan dengan budaya Korea Selatan, baik itu K-Pop, K-Drama, Korean Food, K-Style, make up dan lain sebagainya. Sebenarnya Korean wave ini merupakan program pemerintah Korea selatan yang dirancang untuk menghalau masuknya budaya Jepang seperti Anime, Manga, J-pop dan lainnya. Sehingga, pemerintah Korea Selatan membuka ratusan jurusan industri kebudayaan di hampir seluruh universitas. Hal itu kemudian menarik minat anak muda Korea Selatan sehingga menjadi sebuah gerakan yang besar dan membawa kejayaan untuk industri hiburan dan kebudayaan Korea Selatan. Jadi, nggak heran kalau masuknya gampang keluarnya susah.

Tapi tahukah teman-teman kalau dibalik gencarnya gelombang Korean wave ini ada misi besar? Salah satunya adalah Ghazwul Fiqr atau Perang Pemikiran. Ghazwul Fiqr adalah sebuah cara untuk merusak sendi-sendi islam, menjauhkan muslim dari Al-Qur’an dan Hadits. Ghawzul Fiqr yang saya temukan di Korean Wave ini berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan buku Pernah Tenggelam nya ustadz Fuad Naim yang pernah saya baca dan isi ceramah beliau diantaraya:

1.      Mengacak-acak Gender
Ada kampanye LGBT di dalamnya. Tak jarang saya menonton gimmick antar idol di tengah panggung konser (nontonnya di Youtube bukan ke konsernya langsung), entah itu pelukan, bahkan sampai *maaf melakukan kissing dengan sesama jenis. Saya menganggapnya hal biasa, karena dalam dunia K-Pop mengenal yang namanya Bromance. Padahal seharusnya itu adalah hal yang aneh, terutama untuk muslim. Tak jarang saya menemukan teman yang lebih senang jika idolanya dekat dengan sesama jenis daripada berpacaran dengan lawan jenis. Naudzubillahh, dan sekarang saya menyadari keanehan itu dan merasa geli dan jijik sendiri jika mengingatnya.

2.      Free seks dan pergaulan bebas
Dalam drama-drama Korea, adalah hal yang sangat biasa ketika menyuguhkan scene-scene yang tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Adegan kissing sudah biasa, dan membuat kita menjadi biasa menontonnya. Padahal, seharusnya sebagai muslim merasa aneh dengan hal tersebut.
“Lah kan mereka berasal dari negara kafir jadi wajar dong?”
Iya wajar buat mereka, dan menurut kamu itu wajar juga? Sementara kamu seorang muslim. Bukan hanya lewat scene drama nya tetapi juga dari lirik-lirik lagu nya juga banyak yang *maaf erotis, coba aja cari artinya.

3.      Permakluman barang haram
Selain free seks dan pergaulan bebas, dalam drama korea juga banyak terdapat scene yang menampilkan pemain yang meminum alkohol atau soju. Karena seringnya menonton dan melihat adegan tersebut membuat kita biasa saja, padahal seharusnya merasa aneh.

4.      Hedonisme
Standar bahagia pada dunia. Kalau mau bahagia harus cantik, pintar, punya gelar, banyak duit, terkenal, banyak followers, subscribers dan lainnya. Mari kita lihat fenomena di negeri kita, melakukan segala cara untuk terkenal, menjual urat malu demi uang, sungguh miris. Tapi itu wajar untuk mereka yang kafir, untuk muslim standar bahagia itu adalah meraih ridho Allah, lalu untuk apa di ikuti? Bahkan sudah dikatakan kalau dunia itu tidak lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk. Tahu kan sebelah sayap nyamuk kek apa?

5.      Penyimpangan aqidah
Salah satu yang nampak sekali di Korea Selatan adalah Idol. Dari terjemahan katanya saja berarti berhala atau sesembahan, jadi mereka di desain sesempurna mungkin. Tidak heran mereka di trainee lama untuk dipersiapkan menjadi sempurna. Yang gendut di kurusin, kurang cantik/ganteng oplas, pokoknya harus sempurna deh. Jadi nggak heran kalau ada yang masih trainee bunuh diri atau yang udah terkenal juga stress dan bunuh diri, ya karena tekanan untuk menjadi sempurna ini. Ketika konser para fans berkumpul, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, menyalakan lightstick, berteriak histeris ketika idol mereka muncul layaknya orang yang menyembah berhala. Dan jangan lupakan kalau lirik lagu, konsep tarian, pakaian dan atribut para idol melambangkan iluminati dan simbol-simbol dajjal. Serem gak tuh?

Bukan saya mau menceramahi, tapi saya merasakannya sendiri. Korean wave telah menyebar sebagai idealisme barat dengan rasa Asia yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku, terutama yang sangat rentan terhadap hal ini adalah kaum muda khusunsya wanita. Seolah kehilangan jati diri sebagai muslimah, menjaga pandangan terhadap ikhwan di dunia nyata namun tak berkedip ketika melihat artis korea yang berparas menawan. *Astagfirullah Nunung.

Bersikap kalem nan anggun ketika bertemu ikhwan di dunia nyata tetapi histeris menonton konser idola. Jadi mikir, kalau lihat oppa ganteng saja sudah bisa sebegitu tertariknya apalagi kalau yang muncul Dajjal? Naudzubillah . . .

Coba tengok kembali tujuan kita sebagai muslim, kalau orientasi kita adalah dunia ya sok atuh gpp idolain mereka, lah tapi kalau orientasi kita akhirat apa iya mengidolakan mereka yang tak beragama? Tak berTuhan? Bukankah sudah ada pada diri Rasulullah saw. Suri tauladan yang baik?
Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Ayo baca shirah, kisah Rasul jauh lebih romantis dibanding drama korea, kisah heroik perjuangan para sahabat juga tak kalah luar biasa ketimbang para idola.

Chingudeul yang masih lebih banyak waktu menghabiskan waktu dengan korea an, hayuk atuh kita sama-sama belajar memanfaatkan waktu lebih baik lagi. Ganti informasi, ganti tontonan, ganti hoby. Kebiasaan kurang baik bisa dialihkan. Kalau merasa masih susah, teruslah berjalan menuju jalan hijrah, karena tidak ada jalan yang mampu membuatmu sampai tujuan jika kamu berhenti melangkah.

Bagi yang mau kepo tentang ada apa dibalik Korean Wave, coba kepoin instagram Fuadbakh dan ustadz Fuad Naim serta ceramahnya di Youtube sekalian sama bukunya beliau yang judulnya Pernah Tengelam.

Mohon do'anya juga ya, aku sedang belajar untuk mengurangi beberapa hal yang unfaedah dari K-Wave.

Tulisan ini bisa berubah seiring berjalannya waktu dan proses belajar. Mohon kritik sarannya yahhh  heheee. . .
Selamat berproses, dariku yang berproses juga J

Coba di tonton :D



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1