Oh Standar!

“Standar” adalah ukuran tertentu yang dijadikan sebagai patokan. Sedangkan “Masyarakat” adalah sekumpulan orang yang mendiami suatu wilayah tertentu dan menghasilkan suatu kebudayaan. Jadi, kira-kira standar masyarakat itu adalah suatu ukuran yang dijadikan patokan dalam suatu kebudayaan masyarakat tertentu.

Terjebak standar masyarakat itu kadang memuakkan. Apa-apa harus sesui sama apa yang masyarakat inginkan, harus sesuai dengan standar ukuran di tempat mereka. Sementara, di setiap masyarakat memiliki aturan yang berbeda. Yakali mesti berubah tiap pindah tempat? Padahal kan hidup saya untuk Allah dan nantinya akan kembali ke Allah. Kenapa mesti repot dengan standar masyarakat?

Ok, begini.
Setiap kita, orang normal secara psikologis sudah di anugerahi kemampuan untuk beradaptasi. Terlepas dari kemampuan adaptasi yang cepat dan terkesan mudah, maupun biasa-biasa aja.
Manusia sebagai individu pun butuh akan eksistensi. Butuh di akui keberadaannya oleh orang lain. Nah, untuk itu kita, mau tidak mau harus mengikuti apa yang menjadi standar masyarakat tadi.

Sebagai makhluk sosial, manusia juga tidak akan terlepas dari berhubungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti beberapa kebutuhun yang di ungkapkan Murray dalam teorinya tentang 20 kebutuhan manusia. Seperti kebutuhan untuk menjalin hubungan dan bergaul dengan orang lain, memiliki teman-teman dan bergabung dalam suatu kelompok, hingga membentuk ikatan yang kuat dalam interaksi mereka. Kebutuhan selanjutnya yaitu kebutuhan untuk memperoleh bantuan. Coba acungkan tangan jika anda adalah orang yang tak pernah membutuhkan bantuan orang lain. Saya yakin tidak ada. Karena pada dasarnya manusia butuh dibantu, dicintai, dilindungi, diperhatikan dan juga mendapat simpati. Maka dari itu, kita harus beradaptasi dengan standar masyarakat tadi. 

Beradaptasi disini maksudnya adalah menyesuaikan diri. Artinya, kalau sesuai maka kita terapkan, kalau tidak ya tidak perlu dipaksakan.

“Tapi kan nggak semua standar masyarakat itu sesuai dengan standar hidup kita”

Nah, kita mengenal yang namanya TOLERANSI. Kita menghargai mereka dengan cara yang sekiranya tidak membuat tersinggung. Kalau tidak sesuai, sampaikan dengan adab. Bila tak diterima, ya sudah itu bukan lagi urusan kita melainkan urusan Allah swt.

Sesuai firman Allah dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 266 yang artinya
Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

Jadi, segala sesuatu yang kita yakini itu tidak perlu kita paksakan pada orang lain. Ingat, beda otak beda isi. dibawa santuy aja yang penting kita sudah saling mengingatkan. Hehehe. . .

Segitu dulu tulisan kali ini. Kalau terkesan gak nyambuh, yaudah di nyambung-nyambungin aja :D
Jangan lupa kritik dan sarannya. Khamsamnidaaa . . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1