Kenalan aja dulu, siapa tau nanti jatuh cinta?



Baca aja dulu, siapa tau nanti bisa paham :D

Mau cerita nih kawans, seringkali aku kalau memandang suatu hal itu dari satu sudut pandang saja. Dan itu biasanya tertanam kuat, dan kadang terkesan gak mau menerima nasihat, kritik, saran, atau pandangan orang lain *jangan ditiru yak. Terlebih jika first impression aku sama objek itu emang kurang sreg dihati. Tak jarang hal itu mempengaruhi pola perilaku dan interaksiku terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan objek tersebut. Ada beberapa pengalaman menarik yang akhirnya sedikit demi sedikit mengubah sudut pandangku dalam menyikapi sesuatu. Akan aku ceritakan beberapa disini, yang mungkin diantara kita ada yang juga pernah mengalaminya hehe . . .

Berawal dari masuk kuliah, merantau, dan banyak bertemu orang-orang baru dengan segala macam cerita dan sudut pandangnya. Untuk pertama kalinya memasuki kelas perkuliahan dan bertatap muka langsung dengan dosen. Rata-rata yang aku tangkap dari perkenalan mereka itu “Jangan memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja, karena setiap kepala itu punya pandangan dengan versi masing-masing” yang intinya itu MENGHARGAI!

Akan tetapi, aku belum sepenuhnya menerapkannya dalam kehidupan. Contohnya nih, aku bertemu salah seorang kating (kakak tingkat). Dia memiliki jabatan terpandang dalam suatu organisasi, tetapi menurutku, penampilannya itu kurang mencerminkan posisi yang dia pegang. Qadarullah aku dipertemukan dengannya dalam suatu forum, dan di dalam forum tersebut mengharuskan aku untuk sering bertemu dan berdiskusi dengannya.  Awalnya first impression aku terhadap kating tersebut sangat mempengaruhi, aku merasa sedikit kesal dan selalu berpikir ‘kenapa ngga sama kakak yang lain sih? Kenapa harus sama dia?’.

Singkat cerita, aku akhirnya memutuskan untuk menerima saja. Dengan berat hati aku menemui kating tersebut. Kami berdiskusi, sharing berbagai macam hal, dan karena seringnya pertemuan kami menimbulkan persepsi baru terhadapnya. Rasa kagum mulai muncul terhadapnya. Tentang prinsip, ilmu, cara memimpin, pandangan dalam menyikapi suatu masalah, maupun pembawaannya dalam berinteraksi.
Ada lagi cerita lainnya. Di angkatanku, ada seorang teman yang berpenampilan tidak biasa. Tidak seperti teman-teman seangkatan pada umumnya. Diam-diam aku sering memperhatikannya. Menurutku caranya itu kurang sesuai dengan salah satu buku tuntunan cara berpakaian yang pernah aku baca beserta dalil-dalilnya. Qadarullah aku dipertemukan dalam suatu kepanitiaan dengannya, yang mengharuskan kami untuk bekerjasama. Untuk menjalankan tugas pertama, kami berjanji keluar di malam hari. Aku memperhatikan lagi penampilannya lebih dekat ‘dia kok menutup yang seharusnya nggak ditutup, tetapi membiarkan terbuka yang seharusnya ditutup?’ pikirku. ‘ahh mungkin saja karena ini malam hari’ aku berusaha berpositif thinking saja.

Di hari lainnya, kami berjanji untuk bertemu dan mencari kelengkapan tugas kepanitiaan yang belum lengkap. Aku mengajaknya mampir ke kosanku. Kami banyak mengobrol, membicarakan berbagai macam hal, hingga pertanyaanku tentang dirinya terjawab. Dia banyak bercerita tentang latar belakang kehidupannya hingga sampai ia berpenampilan berbeda dari orang pada umumnya “aku membuat janji dengan sebuah kelompok yang mengubah hidupku untuk berpenampilan seperti ini. Tetapi berlaku di luar kota asalku saja. Orang juga banyak berkomentar kalau penampilanku masih belum sesui dari makna menutup yang seharusnya. Tetapi aku kan juga masih belajar, aku juga mesti nabung dulu buat beli kelengkapan pakaian yang lainnya” tuturnya padaku.

Aku menyesali diriku yang sempat berpikir negatif tentangnya. Dia benar-benar orang yang kuat secara mental, secara prinsip dan teguh pada pendiriannya. Dia banyak memberiku pelajaran melalui hidupnya yang penuh tantangan. Aku mulai berpikir ‘seandainya aku berada di posisinya, mungkin aku tidak akan sekuat dia menghadapi tekanan sosial yang begitu berat’

Ada lagi nih, hehe . . .
Setahun lalu semasa proses pencarian kampus aku banyak berdiskusi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman (ceilah). Salah satunya dengan seorang yang sangat aku hormati sejak SD. Aku bercerita kalau aku berniat untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi diluar daerah, beliau kemudian berkata ‘Nunung boleh kuliah keluar daerah, tetapi jangan ambil perguruan tinggi U**. Itu udah terkenal radikalnya, dan jangan ambil prodi pemikiran’ kira-kira begitu pesan beliau.

Tetapi berhubung aku berambisi kuliah ke luar daerah, sementara aku gak lolos SNMPTN (hiks) aku mengikuti salah satu jalur seleksi nasional khusus perguruan tinggi yang beliau larang.  Dan parahnya lagi aku mengambil salah satu prodi pemikiran. Hingga salah seorang temanku mengatakan “Nantang diri kamu, udah tau kaya gitu malah nekat”. Tetapi pada akhirnya gak lolos juga, dan aku bersyukur meskipun sedikit nangis :D

Anggapan negatif tentang perguruan tinggi itu tertanam kuat dalam pikiranku, sampai suatu hari di bulan November, Qadarullah aku bertemu dengan seorang temannya teman yang akhirnya menjadi teman dengan ketidaksengajaan yang dapat dikatakan sangat tidak diharapkan (?). Dia adalah seorang mahasiswa di U** tersebut. Kami bercerita banyak hal perkara problem umat masa kini (ceilah bahasany :v) sampai dia menyinggung pasal Universitas tempatnya menimba ilmu. “Kalian pernah denger cerita U** radikal kan? Kemarin rame banget di media” katanya, aku tertarik dong dengan bahasanya. “itu beneran gak sih? Aku kmaren dilarang banget masuk sana, tapi nekat daftar. Eh akhirnya ga diterima” aku sedikit bercerita.

“Kamu sama yang ngelarang masuk U** itu tuh kayaknya udah kemakan media deh. Sebenernya kami itu ngga seperti yang kalian pikirkan. Ngga seperti yang media beritakan” katanya sedikit menyindirku. Dan itu benar adanya. Aku kembali berpikir, siapa penguasa media saat ini. Teringat ceramah ustadz Felix Siauw tentang ghozul fikr. Dia kemudian lanjut menjelaskan kalau di kampus dia itu diajarkan bukan fokus pada dalil, bukan pula fokus pada sains, tetapi menyatukan dalil dengan sains. Kampus mereka bertujuan untuk mencetak orang-orang seperti itu, kuat secara agama dan pandai di bidang ilmu pengetahuan.

Dia juga banyak bercerita tentang tentang dunia saat ini, dan bagaimana sebaiknya generasi muslim bersikap. Aku kemudian mengingat perkataan salah seorang teman sekelas ketika tak sengaja kami berdiskusi di perpustakaan “Al-Qur’an itu nyuruh kita cari, temukan, lalu analisis. Dengan begitu kita bisa hubungkan dengan sains. Karena itu Allah ngasi kita akal. Kalau cuma pakai dalil, bagaimana kamu bisa meyakinkan orang non muslim, orang atheis dan orang-orang yang gak percaya Tuhan akan kebenaran ajaran Islam?”.  Begitu beruntungnya aku diberi kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti mereka.

Aku cuma kepikiran aja sama kalimat seorang kating saat aku menghadiri acara perkenalan salah satu orma (organisasi kampus). Setiap anggota orma tersebut memberika testimoni selama mereka menjadi anggota orma tersebut. Kating tersebut kemudian mengatakan “Jangan kenali organisasi dari perkataan orang lain. Tapi buktikan. Kenalan aja dulu, siapa tau nanti jatuh cinta” begitu kira-kira isi kalimatnya.

Jadi, kesimpulannya aku itu kurang baca, kurang main, kurang temen. Makanya banyak hal yang nggak aku tau, masih suka menjudge suatu hal hanya dari sudut pandang saja. Padahal, apa yang nampak itu belum tentu itu yang sebenarnya. Informasi yang kita dapatkan dari orang lain juga belum tentu benar. Tetapi bukan berarti orang itu salah, mungkin saja orang itu juga mendapat informasi yang salah, atau kurang informasi, atau belum tahu?.

 Ada salah satu quote yang mengatakan “Hoax itu ditulis oleh orang pintar yang jahat, dan disebarkan orang baik yang bodoh”. Karena itulah banyak berita hoax bertebaran *kok melipir kemana-mana yak :v.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang seseorang yang fasik kepadamu membawa suatu berita, maka tabayyunlahh (telitilah kebenarannya), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Nah, maka dari itu ayo sama-sama belajar lebih bijak menyikapi suatu problem. Mencari sumber terpercaya sebelum menilai baik atau buruk sesuatu. Berusaha lebih open minded, ya meskipun kadang aku juga masih menilai sesuatu dari first impression atau pendapat orang lain. Aku butuh banyak membaca berbagai macam literasi, perlu berdiskusi dengan banyak orang, dan perlu untuk main dan bertemu hal-hal baru. Sepertinya itu cukup efektif biar aku nggak , hehe. . .

Yuk kita belajar sama-sama jangan mudah menyimpulkan sesuatu sebelum bertabayyun. Karena kita nggak akan tau seperti apa yang sebenarnya kalau kita  nggak nyari tau, ngga meneliti dulu. Siapa tau kalau udah tau dan udah kenal bisa lebih tahu tentang suatu hal dan kita bisa jadi cinta, bisa menggambil hikmah dan pelajarannya J.

Semoga tulisan random ala-ala, yang entah ini nyambung atau ngga antara judul dan isinya bisa diambil hikmahnya. Mohon kritik saran nya yaaaa. . .

Khamsahamnidaaaa temans sudah mau baca sampai akhir. 






Note:Tulisan bisa saja berubah seiring dengan bertambahnya pengetahuan aku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1