Curhatin #4



Ia terdiam. Sudah tak mampu berkata-kata lagi.
Kemarin ia menelpon orang rumah. Awalnya memang hanya iseng, ingin bercanda, lalu berubah serius yang tak pernah ia duga. Air mata nya mulai menetes. Tak tau harus bilang apa. "Baik, sepertinya memang harus aku sendiri" katanya dalam hati.

Hari ini, ia menerima sebuah pesan mengejutkan. Kembali ia bingung harus dengan kata apa ia membalasnya. Dua orang yang dicintainya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Panutannya, tempatnya berkeluh-kesah, rumahnya, kini menjadi tak nyaman. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Apatis tak mungkin, menyalahkan tambah salah, peduli? Ia tak tau cara yang tepat untuk menunjukkan kepeduliannya.

Dua orang mengetuk pintu utama kamar kos nya. Dengan wajah ceria ia sambut sang tamu yang sudah ditunggu-tunggu. "Bagaimana kabarnya? MasyaaAllah akhirnya ketemu ya setelah sekian lama" katanya menyambut dua tamunya di depan pintu utama. "Maaf ya kamarnya rada berantakan" katanya sembari mempersilahkan kedua tamunya masuk ke kamar kos kecilnya. "Maaf juga ya, cuma ada ini" ia menyuguhkan makanan kecil untuk tamunya.

Ia banyak bercerita. Tentang banyak hal dengan kedua tamunya itu. Padahal sebelumnya ia baru saja pulang dari suatu tempat bersama temannya. "Melakukan tanggung jawab" katanya sambil tersenyum.

Kini ia kembali sendiri.
Berkutat dengan pikirannya.
Merenungi setiap kejadian besar yang seketika merubah hidupnya hingga kini. Ia tak menyalahkan keadaan. Hanya saja, ia mencari kekuatan.
"Allah ada. Mau kamu di rumah, mau di kos, mau kamu di luar angkasa pun Allah tetap sama" ia menguatkan diri.
Seperti Firman Allah dalam Qur'an Surah Ash-Sharh ayat 6:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
(sesungguhnyab bersamakesulitan ada kemudahan)

"Ringannya gini, pasti selesai" kalau kata Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya. Iya, pasti selesai. Entah masalah yang terlebih dahulu selesai atau kuota usia habis yang menyelesaikan.

Untuk saat ini, dia masih bingung. Bagaimana harus berbicara, bagaimana harus bersikap, dan langkah mana yang lebih tepat untuk diambil.

Dia seperti merasa harus menjadi orang yang menguatkan "Lantas kalau bukan aku siapa lagi?" katanya dalam hati. Sembari menahan tangis, mengingat rentetan peristiwa yang cukup menyesakkan dalam beberapa waktu ini.

Yahhh...
Manusia memang tidak bisa menyalahkan takdir. Hanya harus menyadarkan diri akan tugas yang seharusnya ditunaikan. Apakah sudah sesuai dengan tujuan atau belum. Ia berkata pada diri sendiri "Untuk urusan kuat, tidak perlu diragukan lagi. Kamu sedah menjadi pemenang dari ratusan ribu kromosom yang akhirnya tumbuh menjadi manusia hingga saat ini. Kamu itu kuat, kamu tidak sendiri. Ada Allah"

Kamu perlu belajar dari kisah-kisah zaman dahulu. Membaca shirah para Nabi, Rasul dan para pengikutnya. Orang-orang hebat namun tak lupa pada sang Maha Segalanya.
Mereka bukan tak punya masalah. Bahkan konflik batin mereka lebih menyesakkan dari yang kau alami. Mereka bukan tak punya amanah. Bahkan amanah mereka jauh lebih besar dari yang kau kira.
Tak ada pilihan selain hadapi. Berserah pada ilahi. Dengan harapan ditunjuki jalan terbaik.

Dia kembali membuka pesan tadi. Masih berpikir kalimat apa yang harus ia ketik untuk membalasnya. Menenangkan, dan tak menimbulkan keputusasaan. "Sepertinya, kamu memang harus menjadi penopang untuk mereka bertiga. Saatnya kamu yang berperan sebagai rumah. Pun kalau sudah tak ada lagi orang yang mau menjadi tempat bercerita. Kamu masih punya Allah. Jangan lemah. Kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan" ia menyemangati diri kembali. Menata kepingan rasa yang sudah tak jelas seperti apa. Berharap Allah tunjukkan jalan terbaik, jawaban dari skenario yang tak pernah mampu ditebak makhlukNya.





Jogja, 25 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1