Gejolak Pemilu #1
Pertama kali kenal pemilu itu jaman SD, cuma tau doang. Sok ikut-ikutan orang tua dukung siapa. Ditambah dengan pelajaran IPS dan PKN yang di dalamnya terselip materi tentang demokrasi di Indonesia.
Selanjutnya di jaman SMP, sudah mulai ada pemilihan ketua OSIS. Pemilihan nya dilakukan secara musyawarah bersama masing-masing perwakilan kelas. Disini masih belum merasa sih politik nya.
Dan tiba di masa SMA. Semester satu sudah pemilu ketua OSIS. Ngerasa "WAH" gitu pake acara pencoblosan di bilik suara. Belum lagi bisikan-bisikan dari kakak kelas yang katanya menjadi tim sukses, tentang dana kampanye, sogokan yang berupa bagi-bagi permen dari salah satu calon. Merasa lucu aja gitu kalau inget dulunya sogokan nya cuma permen, entah ini beneran atau nggak. Jadi mikir, semurah itu ya suara bisa dibeli 😂. Hal-hal itulah menambah kesan real pemilu waktu itu.
Akhirnya tertarik buat masuk kabinet kerjanya OSIS terpilih waktu itu. OSIS nya adem ayem, seringkali telat pulang sekolah gegara rapat sampe sore. Kalau ada even malah bisa sampe maghrib prepare nya. Kakak-kakak yang cowok malah sampai nginep di sekolah. Kerasa banget gitu pahit manisnya bareng kakak-kakak OSIS waktu itu.
Tahun berikutnya angkatan ke-30 sekolah (angkatan ku) mulai menunjukkan taringnya. Mungkin akibat dari berkurangnya perhatian guru terhadap kelas 11. Perhatian sekolah seolah-olah terfokus pada kakak kelas dengan segala macam persiapan ujian, dan adik kelas yang masih beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Beberapa orang sudah berani mengeluarkan suaranya tentang rasa ketidakadilan antara jurusan IPA dan IPS di sosial media. Termasuk aku yang pada saat itu gampang tersulut, merasa paling benar, dan sok menuntut keadilan. Iya, tapi di sosmed. Perang di sosial media tak bisa dihindari, berlanjut dengan perang dingin di sekolah. Konflik antar jurusan tak bisa di elakkan.
Berita ini sampai di telinga petinggi sekolah, alumni, bahkan anak sekolah lain yang tak jarang ikut mengomentari postingan dengan kolom komentar perdebatan.
Saat itu, sekolah seolah-olah terbagi menjadi dua kubu. Tak sedikit yang hubungan pertemanan nya merenggang gara-gara perbedaan jurusan. Kubu IPA dengan calon-calon kuat yang berpotensi memenangkan pemilu yang sudah terlihat sejak awal kepengurusan periode sebelumnya.
Sementara kubu IPS? masih mencari calon yang sekiranya mampu menandingi calon dari kubu IPA.
Seleksi pertama calon dari kubu IPS gugur, menyisakan dua calon dari kubu IPA. Kubu IPS tak terima. Salah satu kelas 11 IPS sampai berdemo di depan koperasi yang di dalamnya terdapat guru-guru bidang kesiswaan untuk menuntut keadilan.
Dan akhirnya, secara paksa dua orang dari kubu IPS dicalonkan sebagai pasangan calon ketua dan wakil ketua OSIS. Dan dapat dikatakan, bahwa mereka berdua tak memiliki pengalaman organisasi (soalnya aku punya pengalaman sekelas dengan pasangan calon ini 😂).
Hari pemilu tiba. Dan kemenangan kubu IPS tak terelakkan. Selain karena suara kubu IPA terpecah menjadi dua, jumlah pemilih dari kubu IPS jauh lebih banyak. Ketegangan antar kubu tak berhenti meskipun pemilu telah usai. Meskipun dalam organisasi kedua kubu terlihat kompak, namun sirat ketegangan tak bisa di bohongi. Entah karena background ketua OSIS yang terkenal "nakal" maupun wakil ketua OSIS yang kurang tegas.
Tetapi dibalik semua itu, salah satu event besar terlaksana di kepengurusan OSIS periode itu. Event yang melegenda, yang sangat berkesan untuk seluruh warga sekolah. Event itu menjadi titik balik keberanian para siswa menyuarakan aspirasi nya, menyelenggarakan event yang belum pernah ada sebelumnya.
OSIS periode itu cukup dikenal baik oleh warga sekolah. Disiplin dan berani. Namun sayang, konsistensi sang ketua OSIS hanya bertahan satu semester. Semester berikutnya, mau tak mau sang wakilpun naik tahta.
Sang wakil yang tak punya pengalaman organisasi yang berarti membuat kami yang terjun ke dunia kepengurusan OSIS sekolah ini harus bekerja lebih ekstra. Membimbing dan mengarahkan. Tetapi untungnya dia tipe pemimpin yang menampung pendapat bawahannya. Kemudian mendiskusikan dengan pihak kesiswaan, baru mengambil keputusan.
Note: ceritanya bersifat subjektif yaw, dari apa yang aku alami dan rasakan. Kuy kalau ada yang mau ralat atau benerin bisa DM ke (Ig) @baiqnunungfeni_
Nungs yang sedang belajar 😎

Komentar
Posting Komentar