Gejolak Pemilu #2

Tiba saatnya lengser dari kepengurusan OSIS. Dua periode kepengurusan OSIS dengan kabinet yang berbeda telah ku rasakan. Kini saatnya menunjukkan indikator keberhasilan yang terakhir, yaitu pembentukan kepengurusan OSIS yang baru.

Namun sayang seribu sayang. Kebijakan sekolah menghambat ruang gerak kami. Kewajiban les sepulang sekolah untuk kelas 12 membuat kami harus mengalah. Kami hanya mampu menyelenggarakan pemilu yang cukup damai untuk calon ketua dan wakil ketua OSIS baru.

Masih sama seperti tahun sebelumnya. Ada dua kubu pasangan calon. Dari kubu IPA dan IPS, hanya saja tidak seramai tahun sebelumnya. Calon ketua dari kubu IPA mendapat dukungan dari ekskul PMR dan Pramuka terlebih dia sebelumnya memiliki pengalaman di OSIS periode sebelumnya. Calon ketua dari kubu IPS mendapat dukungan dari ekskul keolahragaan serta menjabat sebagai ketua paskibra sekolah (kalo ga salah dan keliru). Kedua calon yang potensial dan pastinya memiliki banyak fans di kalangan adik kelas perempuan.

Pemilu kali ini berlangsung cukup damai. Meskipun masih saja ada yang fanatik terhadap kesamaan jurusan. Keluarnya nama calon dari kubu IPA tak membuat munculnya konflik antar jurusan selanjutnya.

Selanjutnya adalah membentuk anggota kepengurusan OSIS yang akan membantu ketua dan wakil ketua untuk menjalankan tugas dan kewajibannya. Akan tetapi tahap seleksinya agak jauh berbeda jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada seleksi oleh anggota kepengurusan lama, tak ada wawancara yang cukup menguras pikiran. Calon anggota baru hanya dikumpulkan lalu mengikuti tes tulis.

Untuk pertama kalinya, jumlah anggota pengurus OSIS lebih dari 70 orang. Padahal tahun-tahun sebelumnya hanya kurang lebih 50 orang. "Biar seleksi alam yang menyeleksi mereka" ucap salah seorang pembina OSIS. Kami mantan pengurus sudah berpikiran negatif duluan. Lantaran seleksi nya sangat mudah dan tak seperti prosedur tahun sebelumnya. "Liat aja nanti, paling yang kerja hanya beberapa orang aja" celetuk salah seorang anggota lama.

Tak butuh waktu lama untuk menikmati program OSIS. Event terbesar di selenggarakan bulan november, HUT ke 32 sekolah. Kami angkatan 30 sangat berharap dengan HUT sekolah tahun tersebut, karena dalam 3 tahun sekali hanya akan di adakan satu kali acara HUT sekolah secara besar-besaran.

Namun, sayang. Harapan kami menikmati HUT sekolah besar-besaran hanya khayalan semata. Angkatan 30 protes dengan  mencibir acara yang kurang membuat mereka kagum. Membanding-bandingkan dengan HUT sekolah tahun lalu. Mengkritik kinerja OSIS, maupun kegiatan yang dianggap kurang memuaskan.

Bermula dari ketidakpuasan tersebut, banyak siswa mengeluh dan membandingkan dengan acara tahun lalu di sosial media. Mencibir OSIS yang kurang kompak, bahkan melebar pada anggapan "Adik kelas yang tidak hormat dengan kakak kelas". Ada juga yang kecewa dengan ketua OSIS yang kurang tegas. "Salah sendiri sih kalian milih ketos lembek kaya dia, padahal udah ku bilang milih si itu yang udah keliatan banget tegasnya" ungkap seseorang kala itu.

Banyak adik kelas dan beberapa pengurus OSIS tersinggung sehingga perang di sosial media tak dapat di hindari. Tak ayal, guru pun terlibat. Beberapa orang mengadu pada wali kelas mereka, menambah geram. Grup chat angkatan menjadi ramai dengan komentar-komentar pedas. Mengerahkan massa untuk membalas status adek kelas yang dianggap kurang sopan di kolom komentar sosial media. Ketegangan inipun berlanjut di dunia nyata.

Dan yah, konflik ini pun reda dengan sendirinya. Meskipun tak dapat di tampik bahwa dendam kepengurusan OSIS yang merasa tak dihargai masih membekas. "Pokoknya yang kemarin itu gak bakal kami lupakan" ungkap wakil ketua OSIS saat ku temui di sela-sela kesibukannya.

Tidak ada yang benar-benar salah disini. Kesalahan berawal dari salahnya sistem pengrekrutan anggota sehingga ada yang kerja ada yang tidak, ada yang komitmen ada yang tidak. Sekolah yang sangat membatasi dalam memberikan dana pun juga menjadi faktor. Selain itu, sebagai kakak kelas pun bukan gila hormat atau menjunjung tinggi senioritas, hanya ingin dihargai sebagai yang lebih tua dan memang sudah kewajiban nya yang tua menghargai yang muda dan yang muda menghormati yang lebih tua.

Yahhh mungkin segitu saja cerita ku tentang nuansa politik di masa SMA. Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan sistem berjalan kurang baik. Sehingga sangat diperlukan kerja sama semua elemen agar tercipta kehidupan sekolah yang harmonis.

Jadi, jangan heran kalau budaya mengkritik pemerintah di Indonesia lebih pedas. Di ruang lingkup kecil seperti sekolah saja bisa menimbulkan ketegangan, apalagi negara? Terlebih negara kita sebagai negara demokrasi yang dimana kita bebas berpendapat. Tentunya dengan batasan-batasan tertentu 😁.

Terakhir semoga SMANTRA semakin jaya. SMANTRA Bisa, Maju, Sukses Yes!

Salam dari alumni yang malu main ke sekolah 😂




Note: ceritanya bersifat subjektif yaw, dari apa yang aku alami dan rasakan. Kuy kalau ada yang mau ralat atau benerin bisa DM ke (Ig) @baiqnunungfeni_


Nungs yang sedang belajar 😎

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup kok gitu-gitu aja ya?

Realita Lepas SMA

How I Meet Jogja #1