Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Gejolak Pemilu #2

Gambar
Tiba saatnya lengser dari kepengurusan OSIS. Dua periode kepengurusan OSIS dengan kabinet yang berbeda telah ku rasakan. Kini saatnya menunjukkan indikator keberhasilan yang terakhir, yaitu pembentukan kepengurusan OSIS yang baru. Namun sayang seribu sayang. Kebijakan sekolah menghambat ruang gerak kami. Kewajiban les sepulang sekolah untuk kelas 12 membuat kami harus mengalah. Kami hanya mampu menyelenggarakan pemilu yang cukup damai untuk calon ketua dan wakil ketua OSIS baru. Masih sama seperti tahun sebelumnya. Ada dua kubu pasangan calon. Dari kubu IPA dan IPS, hanya saja tidak seramai tahun sebelumnya. Calon ketua dari kubu IPA mendapat dukungan dari ekskul PMR dan Pramuka terlebih dia sebelumnya memiliki pengalaman di OSIS periode sebelumnya. Calon ketua dari kubu IPS mendapat dukungan dari ekskul keolahragaan serta menjabat sebagai ketua paskibra sekolah (kalo ga salah dan keliru). Kedua calon yang potensial dan pastinya memiliki banyak fans di kalangan adik kelas perempu...

Gejolak Pemilu #1

Gambar
Pertama kali kenal pemilu itu jaman SD, cuma tau doang. Sok ikut-ikutan orang tua dukung siapa. Ditambah dengan pelajaran IPS dan PKN yang di dalamnya terselip materi tentang demokrasi di Indonesia. Selanjutnya di jaman SMP, sudah mulai ada pemilihan ketua OSIS. Pemilihan nya dilakukan secara musyawarah bersama masing-masing perwakilan kelas. Disini masih belum merasa sih politik nya. Dan tiba di masa SMA. Semester satu sudah pemilu ketua OSIS. Ngerasa " WAH " gitu pake acara pencoblosan di bilik suara. Belum lagi bisikan-bisikan dari kakak kelas yang katanya menjadi tim sukses, tentang dana kampanye, sogokan yang berupa bagi-bagi permen dari salah satu calon. Merasa lucu aja gitu kalau inget dulunya sogokan nya cuma permen, entah ini beneran atau nggak. Jadi mikir, semurah itu ya suara bisa dibeli 😂. Hal-hal itulah menambah kesan real pemilu waktu itu. Akhirnya tertarik buat masuk kabinet kerjanya OSIS terpilih waktu itu. OSIS nya adem ayem, seringkali ...

Curhatin #3

Gambar
Pemenang sejati adalah dia yang bisa mengalahkan diri sendiri. Seperti teori psikoanalis nya Freud yang mengatakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga unsur yaitu  Id, Ego, dan Superego. Id (prinsip kesenangan) Ego (prinsip realitas) Superego (prinsip moralitas) Jadi disini Ego yang akan berfungsi sebagai pengeksekusi. Jalan mana yang akan di tempuh, pilihan mana yang akan di ambil, dan langkah apa yang selanjutnya dilakukan. Apakah akan menuruti Id yang menggebu-gebu meminta untuk segera dituruti, atau memilih Superego dengan pertimbangan aturannya? Semua ada di tangan Ego kita masing-masing. Karena sejatinya yang sehat mental adalah dia yang mampu menyeimbangkan antara Id dan Superego nya. Mendahulukan yang genting tetapi tidak melanggar aturan. Hehehe. . . Jadi, yuklaaa sama-sama belajar tidak terbudaki oleh nafsu sesaat. Kalahkan yang sekiranya menyesatkan diri sendiri. Logika mesti jalan supaya balance, tanpa melepaskan prinsip-prinsip moral 😎 Kita kan...

Curhatin #2

Terlihat simple namun berpengaruh Banyak yang berpendapat "Siapapun Presiden nya, kalau ga usaha ga bakal dapet duit. Siapapun Presidennya kalau kita ga merubah nasib kita sendiri, hidup kita ga bakal berubah. Siapapun Presidennya kehidupan kita tetep kaya gini aja" Hal-hal itu emang belum tentu salah, tetapi ga bener sepenuhnya juga. Firman Allah: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11]. Dan salah satu cara merubah nasib adalah dengan berpolitik gaes. Memperbaiki sistem. Meluruskan yang bengkok, merubah arah yang sekiranya bisa menyesatkan, maupun mengganti yang kurang tepat. Kita hidup di atur oleh sistem tetapi sayangnya terkadang ga kita sadari. Salah satunya ketika kamu mau milih mau makan nasi ayam atau nasi tempe, itu juga sistem. Sistem politik kita pada negara yang bernama diri sen...

Realita Lepas SMA

Gambar
Pahit manis sih pasti ya kan. Namanya juga SMA. Kata orang sih banyak kisah kasihnya gitu.  Pahitnya berpisah dengan keluarga se-SMA, manisnya terlepas dari aturan sekolah yang mengikat. Aku lulus SMA 2018, selesai UNBK teman-teman pada sibuk ngurus langkah masa depan selanjutnya. Kalimat "Meskipun kita udah pada lulus, nanti kita kumpul-kumpul kaya gini lagi ya" terbukti hanya wacana belaka. Ngumpulin setengah nya saja susah sekali. Padahal belum pengumuman kelulusan juga. Yang lulus SNMPTN sibuk ngurus berkas daftar ulang, yang daftar militer sibuk persiapan, yang mau daftar SBMPTN & kedinasan sibuk belajar, yang mau kerja sibuk nyari kerja. Hemmm. . . Agenda kumpul pertama itu di hari acara perpisahan, dan nyatanya beberapa orang ga hadir. Satunya nikah satunya lagi sedang kerja di luar daerah.  Agenda kumpul kedua di acara buka bersama dirumah Jelsqueen nya kelas. Dan itu kurang 10 orang yang hadir. Agenda kumpul ketiga di acara resepsi pernikahan ibu sek...

Curhatin #1

Dapat dikatakan bahwa aku adalah tipe orang yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa orang lain, tanpa contoh orang lain, tanpa diajarkan orang lain. Ketika akan melakukan sesuatu hal yang baru, seringkali terselip rasa keraguan yang menumpuk dalam pikiran hingga keluar dalam bentuk menurunnya kondisi ketahanan fisik. Seringkali meminta masukan dari keluarga memang selalu membuat diri semakin bingung. “Terserah kamu. Kalau kamu sanggup buat mikirin, kalau sanggup ngejalanin, kalau kamu sanggup buat bagi waktu ya jalanin aja” begitu respon Bapak atau Kakak ketika kumintai pendapat. Tetapi setelah proses pencapaian tujuan, lalu berjalan tak sesuai yang diharapkan maka akan keluar kalimat pamungkas berikutnya “kan sudah dibilangin jangan begini, jangan begitu, blablabla........ gak nurut sih” Ok fix. Dalam hukum keluarga (versi Nunung), anak memang selalu terlihat salah. Begini memang kalau dibesarkan di keluarga yang demokratis tapi otoriter. Jika dimintai pendapat bilang...