Cerita Bimbingan #2
Jogja, 6 Juli 2022
“Sanadnya harus jelas” kata Bapak sambil tertawa saat bimbingan kemarin siang. Padahal di awal, beliau mengancam akan marah karena cara analisis data ku yang keliru. Tapi, beliau hanya menggertak. Layaknya seorang Ayah, beliau membimbing, menjelaskan lalu membiarkan anak bimbingannya bereksplorasi.
Berhubung aku tipe anak yang bercerita, jadi semua ku ceritakan ke beliau selama proses skripsian. Sehingga ketahuan, dimana letak kekeliruanku. Padahal seandainya aku tidak terang²an, mungkin saja aku sudah penelitian minggu ini.
Aku tidak menyesal, aku justru bersyukur. Jadi aku tahu harus memperbaiki darimana. Jadi tahu harus seperti apa jika nanti bertemu hal serupa. MasyaaAllah
Sejenak aku berpikir. Bagaimana Bapak membimbing anak² bimbingannya. Beliau benar² mendidik dengan cara yang dewasa. Kami diberikan gambaran, kami diberikan kebebasan, dan kamu diberikan kepercayaan dalam menentukan setiap langkah dalam penelitian.
Sejak awal beliau menekankan pada kehalalan dan keberkahan, sesederhana penggunaan software analisis data. “Biar berkah, dan halal pakai aplikasi ini.” Kata beliau sejak awal bimbingan.
Tapi urusan si mahasiswa nurut atau ndk, itu urusan mahasiswa itu sendiri. Kami sudah dewasa, dan mampu menentukan mana yang baik dan buruk. MasyaaAllah
Jadi merasa bahagia dan bersyukur dibimbing beliau. Pelan tapi ngena. Ngga hanya soal dunia keilmuan, juga ilmu kehidupan. Barakallahu fiik Bapak~
Komentar
Posting Komentar