Manajemen Waktu
“Aku tuh bingung gimana ngebagi waktu. Kadang ada jadwal
tabrakan lah inilah itulah. Aku juga pengen kuliah jalan tapi ibadah juga
maksimal. Apalagi sekarang ini lagi banyak-banyaknya tugas. belum tugas kuliah
yang seabrek, amanah organisasi yang ga bisa ditinggal, belum lagi
target-target pribadi. Hemmm. . . apalagi kalo udah berurusan sama deadline dan
banyak jadwal yang tabarakan. Kan pusing aku tuhhhh”
Pernah ngalamin? Atau sedang ngalamin?
Sama. Aku juga.
Seringkali pusing banget mikirin gimana
ngebagi waktu. Apalagi kalo jadwal udah berantakan kadang bikin futur. Dalam
sehari ada beberapa agenda yang tabrakan akhirnya malah gak ngehadirin satupun.
Astagfirullah.
Padahal, islam sudah nawarin solusi paling
efektif, paling canggih, paling wah deh pokoknya. Jadi, tinggal kitanya mau
action atau ngga.
Lalu, gimana caranya? Ya Bagi :D
Langkah pertama kita mesti bangun mental setting bahwa setiap apa yang
kita lakukan adalah ibadah.
Kuliah buat ibadah, kerja buat ibadah, ngejalanin
amanah organisasi buat ibadah, pokoknya semua yang kita lakukan itu ibadah. Sehinga,
kalau diniatkan untuk ibadah, insyaaAllah akan terhitung sebagai amal sholih
dan akan terhindar dari yang namanya melanggar syari’at. Contohnya, kuliah hari
ini ada kuis, malu dong sama Allah kalau nyontek, kan niatnya ibadah. Simplenya
gitu.
Langkah kedua yaitu dengan
mengimplementasikan rumus pembagian waktu dalam Al-Qur’an.
1. Bagi waktu siang dan malam, apa
yang akan dikerjakan di waktu siang dan apa yang akan dikerjakan waktu malam.
Al-Imran ayat 190
اِنَّ فِيْ
خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ
لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
(Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,)
2.
Perhatikan fungsi siang dan malam.
An-Naba’
ayat 10-11
وَّجَعَلْنَا
الَّيْلَ لِبَاسًاۙ
(dan Kami
menjadikan malam sebagai pakaian,)
وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ
مَعَاشًاۚ
(dan Kami
menjadikan siang untuk mencari penghidupan,)
Malam
sebagai waktu untuk istirahat dan siang untuk beraktivitas. Jangan kebalik.
Kalau malamnya di pakai buat beraktivitas otomatis siangnya buat istirahat
dong? Apalagi tubuh kita kan peka, kalau kurang istirahat pasti ngasi kode,
siangnya bakalan ngantuk-ngantukan, lemes, dan gak bersemangat.
3. Bagi
dengan waktu sholat
Subuh, sebagai waktu
untuk mengatur aktivitas.
At-Takwir
ayat 18
وَالصُّبْحِ
اِذَا تَنَفَّسَۙ
(dan
demi subuh apabila fajar telah menyingsing,)
Matahari saja mulai terbit di waktu subuh. Jadi, rencanakan,
petakan apa saja yang akan dilakkan selama seharian. Setelah itu, minta sama
Allah untuk dilancarkan segala apa yang sudah di rencanakan itu di waktu sholat
subuh.
Setelah itu, sembari menunggu sholat dhuha isi dengan
mengulang hafalan, dzikir pagi, tilawah, baca shiroh, siap-siap beraktivitas.
Dzuhur,
waktunya
evaluasi. Cek kembali apa saja yang sudah dilakukan dari pagi sampai siang. Ada
hasil atau tidak untuk memastikan kita paham atau tidak yang dikerjakan, sesuai
atau tidak dengan apa yang sudah di rencanakan di waktu subuh tadi. Yang di cek
bukan cuma dunia saja, tetapi akhirat juga, sepanjang waktu itu ada ibadahnya
atau tidak.
Sampai tiba waktu Ashar.
Al-‘Asr ayat 1-3
وَالْعَصْرِۙ
(Demi masa,)
اِنَّ
الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
(sungguh,
manusia berada dalam kerugian,)
اِلَّا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.)
Orang yang hanya menghabiskan waktu dunia, ia menjalani
waktu yang sia-sia. Rugi kan? Padahal setiap waktu yang kita lalui adalah modal
kita untuk menghadapi hari pembalasan.
Kalau kita tidak mampu memanfaatkan waktu tersebut, maka
akan tiba waktu Maghrib. Semua waktu
akan tenggelam, semua waktu pasti akan berada di penghujungnya. Jadi, kembali
kita meminta untuk kebaikan.
Isya,
kehidupan
berakhir. Semua aktivtas kita pasti akan berakhir, akan kita tinggalkan. Oleh
karena itu, kembali evaluasi diri, perbanyak istighfar karena kita tidak tahu
bagaimana kita akan berakhir.
Btw, ini tulisan buat ngingetin diri sendiri sih yang
sering begadang dan masih suka lalai sama waktu L
Kalau yang baca juga ikut diingatkan, Alhamdulillah
hehehe. . .
Sumber: Ceramah Ustadz Rendy Saputra (Sabtu, 7 Desember
2019 di Masjid Nurul Ashri) dan ceramah Ustadz Adi Hidayat (https://www.youtube.com/watch?v=6-mKgmqxQ7c)

Mantul mbk
BalasHapusWah bagus nih, kita bisa tau bagaimana memanagement waktu dengan baik dan benar👍👍
BalasHapus