How I Meet Jogja #2




Sudah tidak ada harapan lagi. Wajahku panas, air bergumul di pelupuk mata siap berhambur keluar. Kak Andri menatap kasihan padaku. “dek, coba telpon bapaknya dulu” katanya. aku menurut, dan tak butuh waktu lama telepon tersambung “Pak, udah gak bisa check in lagi. Udah telat. Jadi giamana?” rengekku pada beliau. “Kok bisa? Masa gabisa di tolerir?” tanya bapak khawatir. Di tengah percakapan kami, kak Andri menginterupsi “Dek, kakak udah di panggil, kakak harus pergi. Nanti gimana-gimana hubungi kakak ya” katanya. “Iya kak gpp. Kakak duluan aja, aku ngomong sama bapak dulu” kataku, lalu dia pergi meninggalkanku.

Aku seperti anak hilang di depan counter check in, tidak tau kemana dan harus berbuat apa. Tiba-tiba, petugas memanggilku “dek, masih bisa kok. Tapi kopernya dibawa ke atas aja ya. Mana kode pembayaran tiket dan KTP nya”. seketika aku merasa dijatuhi sebongkahan emas ‘Aku Jadi ke Jogja, ya Allah Alhamdulillah” ucapku dalam hati dengan tidak berhenti tersenyum. Langsung kuberitahu bapak kemudian lari menuju lift untuk menuju lantai dua.

Aku merasa semua memperhatikannku yang terburu-buru, merasa diri membuat keributan di bandara pagi-pagi buta. Aku kesusahan menyeret koper besarku menuju lift, lantas kuminta bantuan kepada petugas kebersihan bandara “Mas, bisa minta tolong bawain koper saya ke atas gak mas?” kataku dengan wajah memelas “Maaf dek, saya ga boleh ke atas” kira-kira begitu jawabannya. Yaudah, gatau gimana caranya akhirnya aku bisa sampai ke lantai dua dengan bawang bawaan yang rempong sekali.

Tiba di pintu pemeriksaan selanjutnya aku kembali melihat kak Andri. Tanpa tahu malu ku teriaki saja namanya hingga membuatku kembali menjadi pusat perhatian orang-orang. Grasa-grusu memasukan koper untuk diperiksa, tas ransel, jaket, dan tas kecil. Rempong sekali memang. “Pelan-pelan dek, nggak bakal ditinggal pesawatnya kok” kata mba-mba petugas. “Ya gimana bisa tenang kalo aku hampir gak bisa berangkat?” dumelku dalam hati. Hahaha dasar memang panikan.

Kak Andri kemudian membantuku membawa barang-barangku. Di pintu keberangkatan, handphone ku pake acara jatuh segala pula. Layarnya mencium lantai, Alhamdulillah nggak sampe retak wkwkwk.

Sampai di depan pintu pesawat aku terpana dengan keadaan dalam pesawat ‘Oh ternyata gini isi dalam pesawat’ kataku dalam hati. Ini ternyata yang suka di bangga-banggakan adekku yang dulu ke rumah nenek naik pesawat sampe 4 kali. Aku jadi bisa pamer juga ke dia, hahaha. . .
Btw, ini penerbangan pertamaku jadi emang agak norak hehe. Waktu itu, aku mendapat nomor kursi 23D kalau tidak salah. Di sampingku ada dua orang mas-mas yang sepertinya anak kuliahan. Aku masa bodolah sama mereka, yang penting aku sudah bisa duduk di kursi peswat.

Eh ternyata, dramanya nggak sampe situ. Pikiran-pikiran nakal mulai muncul di otakku, akhirnya kuputuskan untuk menyibukkan diri membaca hal-hal yang berfaedah selama di pesawat hingga 1 jam lebih peswat mendarat dengan selamat di bandara Adi Sutjipto Jogjakarta.

Ketika keluar dari pesawat aku mengembuskan nafas berat ‘Aku di Jogja ya Allah. MasyaaAlah Alhamdulillah aku udah di pulau Jawa. Aku udah nggak di Lombok lagi’, aku jadi terharu sendiri. Bismillah, semoga Allah mudahkan langkah langkahku.

TBC.
Iya gitu, emang banyak dramanya. 😂Maklum, penerbangan pertama soalnya. Rada norak, ga pernah naik pesawat sebelumnya hehhee
Mohon kritik dan sarannya 😁





Sedayu, 17 November 2019

  

Komentar